Sejumlah merek kecantikan Korea yang beroperasi di Indonesia telah menaikkan harga baik di saluran ritel
maupun digital akibat tantangan makroekonomi, perubahan rantai pasok global, dan reposisi strategis.
Perubahan harga ini berisiko mengganggu persepsi nilai dan mempercepat peralihan merek ke pesaing lokal
yang berkembang pesat di pasar di mana konsumen digital menunjukkan sensitivitas harga yang tinggi serta
pengetahuan mendalam tentang bahan-bahan produk. Untuk mensintesis secara kualitatif kerangka teoritis
yang ada, khususnya Teori Nilai yang Dipersepsikan, Teori Atribusi, Kerangka Kerja Push-Pull-Mooring,
dan Teori Pengaruh Sosial, serta literatur pasar kontekstual, penelitian ini menggunakan metodologi
Tinjauan Pustaka Sistematis. Penelitian ini mengevaluasi bagaimana kekuatan struktural dan moderasi
pembuat konten memengaruhi niat berpindah merek ke alternatif lokal sambil menganalisis mekanisme
kognitif yang melaluinya kenaikan harga yang tidak dapat dijelaskan mengganggu nilai yang dirasakan dan
memicu atribusi ketidakadilan harga. Hal ini dilakukan dengan mensintesis 28 sumber utama yang telah
ditelaah sejawat dan kontekstual yang dipilih menggunakan protokol PRISMA 2020 V2.
Sintesis kualitatif ini menghasilkan kerangka konseptual yang didasarkan pada tiga proposisi utama.
Pertama, dengan melampaui ambang batas harga acuan konsumen, kenaikan harga yang tidak dapat
dijelaskan pada produk kecantikan Korea mengganggu nilai yang dirasakan. Kedua, niat konsumen untuk
beralih ke alternatif lokal meningkat secara langsung akibat persepsi ketidakadilan harga, yang mengikis
kepercayaan terhadap merek. Ketiga, hubungan antara persepsi ketidakadilan harga dan niat berpindah
merek dimoderasi secara positif oleh dukungan para kreator media sosial terhadap alternatif lokal.
Berdasarkan analisis Lima Kekuatan Porter, kreator konten media sosial berperan sebagai moderator kritis
dalam lingkungan di mana kekuatan pembeli yang tinggi dan ketersediaan produk pengganti mempercepat
peralihan dari ketidakpuasan terhadap harga menjadi peralihan merek yang sesungguhnya. Pada akhirnya,
penelitian ini menawarkan rekomendasi manajerial praktis bagi manajer merek yang menekankan pada
positioning merek yang memberikan nilai tambah, komunikasi merek yang transparan, dan keterlibatan
kreator secara strategis. Penelitian ini juga menetapkan kerangka kerja yang jelas untuk pengujian empiris
kuantitatif lebih lanjut.
Keywords: K-beauty, Keadilan Harga, Loyalitas Merek, Pergantian Merek, Influencer Media Sosial
Perpustakaan Digital ITB