Meningkatnya volume lalu lintas udara di berbagai bandara Indonesia menuntut penerapan strategi manajemen pergerakan pesawat yang sangat efisien guna memitigasi akumulasi penundaan penerbangan dan antrean runway. Meskipun opsi intervensi seperti wake turbulence recategorization dan rapid exit taxiway optimization tetap layak digunakan, prosedur intersection takeoff memiliki urgensi implementasi langsung yang paling tinggi. Penelitian ini mengevaluasi kelayakan operasional dari prosedur tersebut dengan menggunakan pesawat Boeing 737-800NG sebagai model desain, mengingat statusnya sebagai varian armada komersial paling dominan yang beroperasi di maskapai-maskapai Indonesia. Penilaian kesesuaian komprehensif yang dilakukan di 37 bandara Angkasa Pura menunjukkan bahwa 9 fasilitas, yang mencakup 17 titik intersection berbeda, mampu mendukung operasi lepas landas dalam kondisi batasan Maximum Takeoff Weight (MTOW). Di antara bandara-bandara tersebut, Bandara Hang Nadim dipilih untuk analisis empiris karena memiliki kerapatan titik intersection memenuhi syarat yang lebih unggul pada satu runway. Guna memodelkan dinamika pemanfaatan runway dan perilaku antrean secara akurat, formulasi empiris Runway Occupancy Time Takeoff (ROTT) diintegrasikan ke dalam kerangka kerja discrete-event simulation yang dikembangkan menggunakan pustaka Python SimPy. Hasil simulasi menunjukkan bahwa prosedur intersection takeoff yang dioptimalkan menghasilkan pengurangan ROTT yang signifikan yaitu 10,8-44,5 detik, yang konsekuensinya memperluas kapasitas runway pada mixed operations (takeoff dan landing) sebesar 1,9%-26,2% dan jika hanya takeoff dapat meningkatkan 22,9%-81,8% kapasitas. Intersection Takeoff juga menghemat bahan bakar 10,5-13,4 kg per penerbangan dan menurunkan emisi karbon dioksida 33-42,3 kg per penerbangan. Pada akhirnya, temuan ini memvalidasi efektivitas optimalisasi operasional dalam memajukan paradigma green aviation, sekaligus memberikan strategi praktis yang berkontribusi langsung pada Sustainable Development Goal (SDG) 9 PBB (Industry, Innovation, and Infrastructure) dan Sustainable Development Goal (SDG) 13 (Climate Action).
Perpustakaan Digital ITB