Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) merupakan salah satu sumber
energi terbarukan yang berperan penting dalam mendukung ketahanan energi
nasional serta menyediakan suplai listrik yang stabil sebagai sumber energi
baseload. Dalam sistem pembangkit ini, turbin uap merupakan komponen utama
yang berfungsi mengubah energi termal dari uap panas bumi menjadi energi
mekanik yang kemudian dikonversi menjadi energi listrik melalui generator.
Keandalan dan efisiensi operasi turbin sangat bergantung pada kondisi komponen
sudu turbin yang bekerja pada kondisi operasi yang ekstrem, yaitu temperatur
tinggi, tekanan tinggi, serta lingkungan kimia yang agresif. Pada sistem pembangkit
panas bumi, uap yang digunakan untuk menggerakkan turbin sering kali
mengandung gas non-kondensabel seperti karbon dioksida (CO2) dan hidrogen
sulfida (H2S), yang berpotensi menciptakan lingkungan korosif dan mempercepat
proses degradasi material.
PLTP Lahendong Unit 1 di Sulawesi Utara merupakan salah satu pembangkit panas
bumi yang memiliki peran penting dalam sistem kelistrikan regional dengan
kapasitas terpasang sebesar 20 MW. Unit pembangkit ini mulai beroperasi secara
komersial pada tahun 2001 dan telah beroperasi selama lebih dari dua dekade.
Seiring dengan meningkatnya akumulasi jam operasi, komponen-komponen kritis
pada turbin mengalami proses penuaan material yang dapat memengaruhi integritas
struktural dan keandalannya. Sudu turbin merupakan salah satu komponen yang
paling rentan terhadap kerusakan karena secara langsung terpapar aliran uap
berkecepatan tinggi serta berbagai kontaminan kimia yang terkandung di dalam
fluida panas bumi. Kondisi ini menyebabkan sudu turbin berpotensi mengalami
berbagai mekanisme kerusakan seperti creep, korosi, erosi, fatigue, dan stress
corrosion cracking (SCC), yang dalam jangka panjang dapat memicu terjadinya
kegagalan struktural komponen.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk kerusakan yang terjadi
pada sudu turbin PLTP Lahendong Unit 1 serta mengevaluasi umur sisa komponen
berdasarkan mekanisme degradasi material yang terjadi selama operasi. Pendekatan
penelitian dilakukan melalui analisis kerusakan menggunakan data inspeksi Non-
Destructive Test (NDT), evaluasi perubahan mikrostruktur material menggunakan
metode in-situ metallography, serta analisis numerik menggunakan simulasi
metode elemen hingga (finite element method). Analisis tersebut
mempertimbangkan parameter operasi aktual pembangkit seperti temperatur uap,
ii
tekanan operasi, serta durasi operasi yang diperoleh dari data log sheet operasional
pembangkit.
Metode inspeksi material yang digunakan dalam penelitian ini meliputi berbagai
teknik pengujian non-destruktif seperti ultrasonic test (UT), magnetic particle test
(MPT), dan penetrant inspection untuk mendeteksi adanya cacat permukaan
maupun cacat internal pada material sudu turbin. Selain itu, pengujian metalografi
in-situ dilakukan untuk mengamati perubahan mikrostruktur material yang terjadi
akibat paparan temperatur tinggi dan tegangan jangka panjang selama masa operasi
turbin. Melalui pengamatan mikrostruktur, indikasi kerusakan akibat creep dapat
diidentifikasi melalui keberadaan microvoids, cavities, oriented cavities, maupun
microcracks yang terbentuk pada batas butir material. Perubahan mikrostruktur
tersebut menjadi indikator penting dalam mengevaluasi tingkat kerusakan material
dan memperkirakan sisa umur pakai komponen.
Hasil analisis menunjukkan bahwa degradasi material pada sudu turbin dipengaruhi
oleh kombinasi faktor termal, mekanis, dan kimia dari lingkungan operasi panas
bumi. Interaksi antara temperatur tinggi, tegangan jangka panjang akibat gaya
sentrifugal turbin, serta lingkungan korosif dari gas-gas non-kondensabel dapat
mempercepat proses degradasi material pada sudu turbin yang terbuat dari
Martensitic Stainless Steel (SS 410). Dalam kondisi operasi jangka panjang, proses
creep dapat menyebabkan pembentukan rongga mikro (microcavities) yang
kemudian berkembang menjadi retakan mikro dan retakan makro yang berpotensi
menyebabkan kegagalan struktural komponen apabila tidak terdeteksi secara dini.
Melalui pendekatan analisis terpadu yang menggabungkan inspeksi material,
evaluasi mikrostruktur, serta simulasi numerik, penelitian ini memberikan
gambaran komprehensif mengenai kondisi degradasi aktual pada sudu turbin serta
estimasi sisa umur operasionalnya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi
dasar dalam penerapan strategi pemeliharaan berbasis kondisi (condition-based
maintenance) serta perencanaan pemeliharaan turbin yang lebih efektif dan efisien.
Dengan demikian, keandalan operasi PLTP Lahendong Unit 1 dapat tetap terjaga
sekaligus meminimalkan risiko kegagalan komponen yang tidak terprediksi serta
meningkatkan umur pakai aset pembangkit secara keseluruhan.
Perpustakaan Digital ITB