digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Sektor perikanan Indonesia masih bergantung pada bahan bakar fosil dan menyumbang emisi gas rumah kaca, sementara Pelabuhan Atapupu, Kabupaten Belu, NTT, berada di ujung jaringan transmisi yang lemah (weak grid) sehingga tidak andal untuk menopang pengisian daya cepat. Penelitian ini merancang sistem propulsi elektrik dan infrastruktur DC Fast Charger off-grid berbasis PLTS untuk kapal nelayan 1 GT, menggunakan analisis kebutuhan energi, sizing komponen, serta verifikasi dinamika sistem pada MATLAB/Simulink dan PVSyst. Sistem propulsi menggunakan motor PMSM 5,1 kW dan baterai LiFePO4 400 Ah (usable 16,384 kWh) yang memenuhi kebutuhan energi harian 5,316 kWh dengan otonomi sekitar 3 hari, didukung boat-mounted PV CIGS 200 Wp untuk beban auxiliary. Infrastruktur darat terdiri atas PLTS 11 kWp, konverter Buck DC-DC 11 kW berkendali CV/CC (riak arus 3,43%, riak tegangan 0,022%), dan BESS 56,32 kWh (1.100 Ah), yang mampu mengisi baterai kapal dari 20% hingga 80% dalam 1 jam 7 menit pada daya penuh. Analisis tekno-ekonomi menghasilkan LCOE PLTS Rp689,66/kWh dan LCOS BESS Rp6.304,11/kWh dibandingkan propulsi diesel setara (>Rp9.000/kWh), sistem ini berpotensi menghemat biaya energi operasional sekitar 30–92% tergantung sumber pasokan (BESS versus PLTS langsung), sekaligus mendukung target Net Zero Emission 2060.