Industri besi dan baja merupakan salah satu sektor industri dengan konsumsi energi
dan emisi karbon dioksida (CO2) yang tinggi, terutama pada proses Blast Furnace
(BF) yang masih bergantung pada bahan bakar berbasis fosil. Salah satu pendekatan
untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil adalah substitusi Pulverized Coal
Injection (PCI) menggunakan syngas hasil gasifikasi biomassa. Penelitian ini
bertujuan untuk mengevaluasi performa integrasi gasifikasi biomassa dengan Blast
Furnace sebagai substitusi PCI, menganalisis pengaruh temperatur operasi
gasifikasi dan kadar air biomassa terhadap kinerja termodinamika sistem, serta
mengevaluasi kelayakan tekno-ekonomi integrasi tersebut. Pemodelan dan simulasi
dilakukan menggunakan perangkat lunak Aspen Plus. Model gasifikasi dan Blast
Furnace dikembangkan secara terpisah dan divalidasi sebelum diintegrasikan.
Analisis dilakukan pada sembilan skenario dengan variasi temperatur gasifikasi
800, 850, dan 900°C serta kadar air biomassa 10%, 20%, dan 30%, dengan
substitusi 100% PCI berdasarkan kesetaraan energi terhadap base case. Hasil
simulasi menunjukkan bahwa peningkatan kadar air meningkatkan kebutuhan
biomassa dan konsumsi energi, serta menurunkan kualitas syngas. Pada temperatur
gasifikasi 800 °C, peningkatan kadar air dari 10% menjadi 30% menurunkan
Higher Heating Value (HHV) syngas dari 10,01 menjadi 9,11 MJ/kg dan Cold Gas
Efficiency (CGE) dari 62,15% menjadi 57,78%. Meskipun demikian, integrasi
syngas mampu mempertahankan produksi hot metal yang relatif mendekati kondisi
base case. Seluruh skenario menghasilkan pengurangan emisi CO2 fosil sebesar
35,97–36,57% dibandingkan dengan Blast Furnace konvensional di base case.
Dari aspek ekonomi, annualized CAPEX berada pada rentang 32,66–36,00 juta
USD/tahun dan OPEX sebesar 67,52–80,04 juta USD/tahun. Biaya inkremental
berada pada rentang 53,93–63,14 USD/ton hot metal, sedangkan Levelized Cost of
Avoided CO2 (LCOA) sebesar 111,55–130,14 USD/tCO2. Skenario 3, yaitu
temperatur gasifikasi 800°C dan kadar air 30%, memberikan kinerja tekno-ekonomi
terbaik dengan biaya inkremental sebesar 53,93 USD/ton hot metal dan LCOA
sebesar 111,55 USD/tCO2. Dengan demikian, integrasi gasifikasi biomassa
berpotensi mengurangi emisi CO2 fosil pada proses Blast Furnace, tetapi
penerapannya memerlukan pertimbangan terhadap peningkatan kebutuhan energi
dan biaya operasi, sehingga terdapat trade-off antara kinerja lingkungan dan
ekonomi.
Perpustakaan Digital ITB