digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Mohamad Syafi'i
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Sebagai upaya mencapai target Net Zero Emission pada tahun 2060, PT PLN (Persero) melakukan strategi percepatan melalui early retirement pembangkit berbahan bakar fosil dan peningkatan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 34,3% sebagaimana direncanakan dalam RUPTL 2025-2034. Salah satu potensi EBT yang dikelola adalah Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Mataloko yang memiliki karakteristik temperatur fluida rendah. Penelitian ini menganalisis pengaruh pemanfaatan Siklus Rankine Organik (SRO) pada sumur Mataloko untuk mengevaluasi potensi energi yang dihasilkan. Konfigurasi sistem divariasikan menjadi SRO sederhana, SRO-superheater, dan SRO-recuperator dengan pinch point temperature difference (PPTD) sebesar 5 °C dan 10 °C. Kelayakan masing-masing sistem dievaluasi melalui analisis termodinamika dan tekno-ekonomi. Hasil analisis menunjukkan bahwa konfigurasi SRO dengan superheater pada kondisi PPTD 10 °C menggunakan isopentana merupakan model paling efisien untuk diterapkan di WKP Mataloko. Dari sisi termodinamika, sistem ini mencatatkan efisiensi termal sebesar 9,80%, efisiensi pemanfaatan 14,78%, serta daya neto sebesar 9,89 kW. Secara finansial, proyek ini menunjukkan indikator kelayakan yang sangat kuat dengan nilai Capital Expenditure (CAPEX) sebesar US$ 60.223 dan Net Present Value (NPV) positif mencapai US$ 12.007. Investasi ini diproyeksikan memberikan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 13% dengan Return on Investment (ROI) 15,62%, serta mampu mencapai titik impas (payback period) dalam jangka waktu 7 tahun. Dengan nilai Levelized Cost of Electricity (LCOE) sebesar 10,9 US$\cent$/kWh, penelitian ini membuktikan bahwa pemanfaatan sumur panas bumi suhu rendah di Mataloko tidak hanya layak secara teknis, tetapi juga kompetitif dan prospektif secara ekonomi dalam mendukung kemandirian energi daerah.