Gempa bumi tektonik berkekuatan 4,9 Mw mengguncang wilayah Kertasari, kabupaten Bandung, provinsi Jawa Barat pada 18 September 2024 dan menyebabkan kerusakan infrastruktur yang signifikan. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi karakteristik bawah permukaan melalui parameter frekuensi dominan (f0), amplifikasi (A0), dan Vs30 yang akan diintegrasikan ke dalam mikrozonasi bahaya seismik. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data rekaman sinyal mikrotremor dari 26 stasiun titik stasiun. Analisis data mikrotremor dilakukan menggunakan metode HVSR dengan menggunakan perangkat lunak Geopsy. Hasil pengolahan HVSR menunjukkan nilai frekuensi dominan berada pada rentang nilai 0,71 hingga 6,58 Hz dan nilai amplifikasi berada pada rentang nilai 2,15 hingga 7,77. Berdasarkan analisis mikrotremor, wilayah Kertasari didominasi oleh nilai f0 yang rendah yang mengindikasikan adanya endapan piroklastik tebal yang dapat memperkuat amplifikasi dan meningkatkan kerusakan akibat resonansi tanah. Inversi Vs30 dilakukan menggunakan modul Dinver berbasis Neighborhood Algorithm (NA). Hasil inversi menunjukkan nilai Vs30 di daerah Kertasari berkisar antara 392,35 hingga 742,24 m/s. Secara teknis, rentang nilai ini termasuk dalam kategori kelas situs C berdasarkan pedoman Standar Nasional Indonesia (SNI 1726:2019). Temuan ini dapat menjadi acuan dalam perencanaan pembangunan infrastruktur yang berbasis mitigasi gempa bumi di wilayah Kertasari.
Perpustakaan Digital ITB