Indonesia merupakan wilayah dengan tingkat aktivitas geologi dan tektonik yang
sangat tinggi akibat interaksi tiga lempeng tektonik utama, yaitu Lempeng Eurasia,
Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik. Interaksi tersebut menghasilkan
berbagai struktur geologi aktif seperti sesar, lipatan, dan gunung api, yang
menjadikan Indonesia rawan terhadap bencana geologi, khususnya gempa bumi.
Salah satu struktur geologi aktif yang memiliki potensi kebencanaan tinggi di Jawa
Barat adalah Sesar Lembang, yang membentang di bagian utara Cekungan
Bandung dan melintasi wilayah dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi.
Daerah Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, terletak pada bagian barat zona
pengaruh Sesar Lembang dan tersusun oleh endapan vulkanik kuarter yang bersifat
lapuk, berpori, serta jenuh air, sehingga berpotensi memperkuat dampak aktivitas
seismik. Namun demikian, kajian struktur bawah permukaan di wilayah
Parongpong masih relatif terbatas dibandingkan segmen lain dari Sesar Lembang.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis distribusi resistivitas bawah permukaan
di wilayah Parongpong menggunakan metode geolistrik resistivitas 2D, serta
menginterpretasikan keterkaitannya dengan zona pengaruh Sesar Lembang sebagai
upaya mendukung mitigasi risiko gempa. Penelitian ini secara khusus
membandingkan hasil pengukuran menggunakan dua konfigurasi elektroda, yaitu
konfigurasi Wenner dan konfigurasi Schlumberger, guna memperoleh gambaran
yang lebih komprehensif mengenai karakteristik bawah permukaan.
Metode penelitian meliputi pengukuran geolistrik resistivitas 2D pada satu lintasan
pengukuran yang berorientasi utara-selatan, tegak lurus terhadap arah umum Sesar
Lembang yang berorientasi barat-timur. Akuisisi data dilakukan menggunakan
resistivity meter AGI Super Sting R8 IP dengan jarak antar elektroda sebesar 25
meter. Data resistivitas semu yang diperoleh kemudian diolah menggunakan
perangkat lunak RES2DINV melalui tahapan pemodelan ke depan (forward
modelling) dan pemodelan inversi (inverse modelling) berbasis optimasi least
squares hingga diperoleh model distribusi resistivitas bawah permukaan dua
dimensi yang representatif. Interpretasi hasil dilakukan dengan mengacu pada model arsitektur zona sesar Caine et al. (1996) dan dikorelasikan dengan peta
geologi regional Silitonga (1973) serta peta jalur Sesar Lembang.
Hasil inversi menunjukkan rentang nilai resistivitas 4,44–830 ?m dengan variasi
lateral dan vertikal yang signifikan pada kedua penampang. Nilai absolute error
sebesar 8,9% untuk konfigurasi Schlumberger dan 9,5% untuk konfigurasi Wenner
menunjukkan kesesuaian yang baik antara data terukur dan model terhitung. Zona
resistivitas sangat rendah (<20 ?m) pada jarak 180 m, 300 m, dan 425 m
diinterpretasikan sebagai indikasi inti sesar (fault core) berupa lempung jenuh
fluida, sedangkan zona 20–40 ?m di sekitarnya diinterpretasikan sebagai zona
kerusakan (damage zone) akibat deformasi sesar. Resistivitas 40–100 ?m yang
mendominasi sebagian besar penampang diinterpretasikan sebagai batuan induk
(protolith) berupa satuan tuf dan tuf pasiran. Zona resistivitas tinggi (>100 ?m)
yang muncul secara setempat diinterpretasikan sebagai batuan vulkanik yang lebih
kompak.
Hasil penelitian mengindikasikan bahwa wilayah Parongpong berada dalam zona
pengaruh langsung Sesar Lembang dengan kondisi bawah permukaan yang
berpotensi memperkuat amplifikasi gelombang seismik, sehingga diperlukan
langkah mitigasi yang memadai mencakup zonasi rawan bencana dan penerapan
standar konstruksi bangunan tahan gempa di wilayah tersebut.
Perpustakaan Digital ITB