digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Akhir bulan November 2025, Siklon Tropis Senyar menimpa sebagian wilayah di Suamtera dan Aceh menyebabkan kerugian yang masif baik dari aspek korban jiwa maupun aspek material. Kerugian tersebut salah satunya disebabkan oleh longsor dangkal yang diinduksi oleh hujan lebat yang menimpa. Adanya kejadian ini memunculkan urgensi untuk memetakan bahaya longsor dengan pendekatan yang lebih kuantitatif berdasarkan model berbasis fisik. Beberapa studi terdahulu telah mengembangkan model berbasis fisik untuk keperluan penilaian bahaya longsor dengan memanfaatkan teori lereng tak hingga, di antaranya TAG_FLOW dan SLIDE. Penelitian ini membandingkan akurasi prediksi distribusi spasial longsor pada TAG_FLOW dan SLIDE yang memiliki perbedaan fundamental pada pemanfaatan kuat geser tambahan dari lapisan tak jenuh dan mekanisme kenaikan muka air tanah. Penelitian dilakukan melalui studi parametrik komparatif dengan memvariasikan beberapa parameter kunci, seperti kohesi, sudut geser dalam, derajat kejenuhan awal, dan ketebalan tanah maksimum tanah. Komparasi model dilakukan melalui analisis titik dana analisis spasial. Pada analisis titik, perubahan nilai faktor keamanan dan muka air tanah dipelajari untuk memahami perilaku model dan mekanismenya. Selanjutnya, analisis spasial dilakukan untuk mengetahui akurasi prediksi model melalui metrik Success Rate (SR) dan Modified Success Rate (MSR). Selain itu, penelitian ini juga mencoba menyelesaikan permasalahan kelangkaan data melalui proses analisis balik dengan menggunakan kerangka Bayesian yang diselesaikan dengan metode Rantai Markov Monte Carlo. Analisis balik dilakukan dengan dasar bahwa lereng yang mengalami kegagalan memiliki faktor keamanan bernilai satu. Penelitian ini juga mengajuukan metode analisis balik pada titik nonlongsor dengan menggunakan fungsi distribusi kumulatif dalam perhitungan rantai Markov dengan kondisi lereng non-longsor memiliki faktor keamanan lebih dari satu. Studi parametrik menunjukkan SLIDE selalu menghasilkan analisis dengan faktor keamanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan TAG_FLOW. Hal ini disebabkan oleh adanya penambahan kuat geser yang signifikan dalam bentuk kohesi semu. Selain itu, model hidrologis pada SLIDE selalu menghasilkan fraksi tebal lapisan jenuh air lebih rendah dibanding TAG_FLOW yang mengimplikasikan tingginya nilai FS. Analisis balik yaang diajukan dalam penelitian ini terbukti mampu menghasilkan parameter spasial yang lebih representatif terhadap kondisi kelongsoran. Hal ini juga dibuktikan dengan kecocokan secara kualitatif antara pencatatan longsor SERTIT dan prediksi model. Secara kuantitatif, penerapan parameter posterior pada model TAG_FLOW meningkatkan nilai SR dari 0,207 menjadi 0,320 dan MSR dari 0,544 dan 0,655 dibandingkan dengan parameter seragam awal. Evaluasi lebih lanjut melalui kurva ROC menghasilkan AUC sebesar 0,926, dengan titik optimum pada Indeks Youden pada FS = 1,16 (TPR = 82,6% ; FPR = 13,8%), menunjukkan model mampu membedakan titik longsor dan non-longsor dengan sangat baik. Namun, metode ini memiliki keterbatasan karena menghasilkan parameter yang tidak unik. Hal ini disebabkan oleh kalibrasi terpisah pada model TAG_FLOW dan SLIDE menghasilkan dua himpunan parameter kuat geser posterior yang berbeda, dengan model SLIDE cenderung menekan nilai kohesi dan sudut geser dalam lebih rendah untuk mengompensasi kontribusi kohesi semu, tetapi keduanya menghasilkan peta probabilitas kegagalan yang serupa tanpa dapat divalidasi terhadap data uji tanah independen. Penerapan model terkalibrasi pada area ril Tapanuli Tengah (30, 2km2) menghasilkan peta probabilitas kegagalan secara statistik konsisten dengan pola kelongsoran aktual. Nilai probabilitas kegagalan mulai meningkat pada lereng dengan kemiringan di atas 15°, dengan nilai rerata tertinggi (0,214) proporsi sel berisiko tinggi (???????? ? 0, 5) terbesar (10,3%) berada pada kelas kemiringan 30° ? 45°. Angka ini sejalan dengan 9,7% kejadian longsor aktual yang juga terkonsentrasi pada kelas lereng tersebut. Kesesuaian ini menunjukkan bahwa peta hasil analisis balik cukup andal digunakan sebagai dasar pemetaan bahaya longsor pada skala regional. Meskipun demikian, mengingat keterbatasan non-unisitas parameter posterior, penelitian ini tetap menekankan pentingnya penyelidikan tanah lapangan untuk memvalidasi parameter hasil analisis balik sebelum dimanfaatkan pada mitigasi lokasi spesifik.