Akhir bulan November 2025, Siklon Tropis Senyar menimpa sebagian wilayah di
Suamtera dan Aceh menyebabkan kerugian yang masif baik dari aspek korban jiwa
maupun aspek material. Kerugian tersebut salah satunya disebabkan oleh longsor
dangkal yang diinduksi oleh hujan lebat yang menimpa. Adanya kejadian ini
memunculkan urgensi untuk memetakan bahaya longsor dengan pendekatan yang
lebih kuantitatif berdasarkan model berbasis fisik. Beberapa studi terdahulu telah
mengembangkan model berbasis fisik untuk keperluan penilaian bahaya longsor
dengan memanfaatkan teori lereng tak hingga, di antaranya TAG_FLOW dan
SLIDE.
Penelitian ini membandingkan akurasi prediksi distribusi spasial longsor pada
TAG_FLOW dan SLIDE yang memiliki perbedaan fundamental pada pemanfaatan
kuat geser tambahan dari lapisan tak jenuh dan mekanisme kenaikan muka air tanah.
Penelitian dilakukan melalui studi parametrik komparatif dengan memvariasikan
beberapa parameter kunci, seperti kohesi, sudut geser dalam, derajat kejenuhan
awal, dan ketebalan tanah maksimum tanah. Komparasi model dilakukan melalui
analisis titik dana analisis spasial. Pada analisis titik, perubahan nilai faktor
keamanan dan muka air tanah dipelajari untuk memahami perilaku model dan
mekanismenya. Selanjutnya, analisis spasial dilakukan untuk mengetahui akurasi
prediksi model melalui metrik Success Rate (SR) dan Modified Success Rate
(MSR).
Selain itu, penelitian ini juga mencoba menyelesaikan permasalahan kelangkaan
data melalui proses analisis balik dengan menggunakan kerangka Bayesian yang
diselesaikan dengan metode Rantai Markov Monte Carlo. Analisis balik dilakukan
dengan dasar bahwa lereng yang mengalami kegagalan memiliki faktor keamanan
bernilai satu. Penelitian ini juga mengajuukan metode analisis balik pada titik nonlongsor
dengan menggunakan fungsi distribusi kumulatif dalam perhitungan rantai
Markov dengan kondisi lereng non-longsor memiliki faktor keamanan lebih dari
satu.
Studi parametrik menunjukkan SLIDE selalu menghasilkan analisis dengan faktor
keamanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan TAG_FLOW. Hal ini disebabkan
oleh adanya penambahan kuat geser yang signifikan dalam bentuk kohesi semu.
Selain itu, model hidrologis pada SLIDE selalu menghasilkan fraksi tebal lapisan
jenuh air lebih rendah dibanding TAG_FLOW yang mengimplikasikan tingginya
nilai FS.
Analisis balik yaang diajukan dalam penelitian ini terbukti mampu menghasilkan
parameter spasial yang lebih representatif terhadap kondisi kelongsoran. Hal ini
juga dibuktikan dengan kecocokan secara kualitatif antara pencatatan longsor
SERTIT dan prediksi model. Secara kuantitatif, penerapan parameter posterior pada
model TAG_FLOW meningkatkan nilai SR dari 0,207 menjadi 0,320 dan MSR
dari 0,544 dan 0,655 dibandingkan dengan parameter seragam awal. Evaluasi lebih
lanjut melalui kurva ROC menghasilkan AUC sebesar 0,926, dengan titik optimum
pada Indeks Youden pada FS = 1,16 (TPR = 82,6% ; FPR = 13,8%), menunjukkan
model mampu membedakan titik longsor dan non-longsor dengan sangat baik.
Namun, metode ini memiliki keterbatasan karena menghasilkan parameter yang
tidak unik. Hal ini disebabkan oleh kalibrasi terpisah pada model TAG_FLOW
dan SLIDE menghasilkan dua himpunan parameter kuat geser posterior yang
berbeda, dengan model SLIDE cenderung menekan nilai kohesi dan sudut geser
dalam lebih rendah untuk mengompensasi kontribusi kohesi semu, tetapi keduanya
menghasilkan peta probabilitas kegagalan yang serupa tanpa dapat divalidasi
terhadap data uji tanah independen.
Penerapan model terkalibrasi pada area ril Tapanuli Tengah (30, 2km2)
menghasilkan peta probabilitas kegagalan secara statistik konsisten dengan pola
kelongsoran aktual. Nilai probabilitas kegagalan mulai meningkat pada lereng
dengan kemiringan di atas 15°, dengan nilai rerata tertinggi (0,214) proporsi sel
berisiko tinggi (???????? ? 0, 5) terbesar (10,3%) berada pada kelas kemiringan 30° ?
45°. Angka ini sejalan dengan 9,7% kejadian longsor aktual yang juga terkonsentrasi
pada kelas lereng tersebut. Kesesuaian ini menunjukkan bahwa peta hasil analisis
balik cukup andal digunakan sebagai dasar pemetaan bahaya longsor pada skala
regional. Meskipun demikian, mengingat keterbatasan non-unisitas parameter
posterior, penelitian ini tetap menekankan pentingnya penyelidikan tanah lapangan
untuk memvalidasi parameter hasil analisis balik sebelum dimanfaatkan pada
mitigasi lokasi spesifik.
Perpustakaan Digital ITB