Penyakit darah (banana blood disease/BBD) yang disebabkan oleh bakteri
Ralstonia syzygii subsp. celebesensis (Rsc) merupakan ancaman serius bagi
produksi pisang di Indonesia, yang pada tahun 2024 mencapai 9,26 juta ton. Gejala
awal infeksi Rsc bersifat asimtomatik, sehingga diperlukan metode deteksi dini
yang cepat dan non-destruktif. Penelitian ini bertujuan mengembangkan metode
deteksi awal BBD dengan menentukan korelasi antara pola spektral, kondisi fisikfisiologis
pada kultivar Cavendish, Mas Kirana, dan Kepok yang diinokulasikan
Rsc, serta profil ekspresi gen terkait jalur etilen (ACS2, EIL1, dan PR4) pada
kultivar Cavendish. Hasil penilaian Disease Severity Index (DSI) pada hari ke-16
menunjukkan tingkat keparahan tertinggi pada Cavendish (90%), diikuti Kepok
(87%) dan Mas Kirana (69%). Penurunan kadar klorofil total secara signifikan
terjadi pada hari ke-16 di seluruh kultivar terinfeksi, sejalan dengan pelandaian nilai
reflektansi spektral pada rentang panjang gelombang 500–700 nm (spektrum
absorpsi pigmen fotosintesis) untuk Cavendish dan Kepok. Pada kultivar
Cavendish, analisis qRT-PCR menunjukkan peningkatan ekspresi gen pertahanan
yang signifikan pada hari ke-16 dibandingkan hari ke-1, dengan kelipatan ekspresi
sebesar 9,64 kali (ACS2), 18,53 kali (EIL1), dan 6,06 kali (PR4). Analisis korelasi
pada Cavendish menunjukkan bahwa indeks Plant Senescence Reflectance Index
(PSRI) berkorelasi positif dengan ekspresi gen, sedangkan indeks Modified
Chlorophyll Absorption in Reflectance Index (MCARI) dan Normalized Difference
Vegetation Index (NDVI) berkorelasi negatif. Korelasi ini merefleksikan stres dan
degradasi pigmen fotosintesis yang berhubungan dengan peningkatan ekspresi gen
terkait jalur etilen. Penelitian ini membuktikan bahwa integrasi analisis spektral dan
ekspresi genetik pada kultivar rentan seperti Cavendish berpotensi besar sebagai
sistem deteksi dini non-destruktif BBD.
Perpustakaan Digital ITB