digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Stephanie br Purba
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Penyakit darah (banana blood disease/BBD) yang disebabkan oleh bakteri Ralstonia syzygii subsp. celebesensis (Rsc) merupakan ancaman serius bagi produksi pisang di Indonesia, yang pada tahun 2024 mencapai 9,26 juta ton. Gejala awal infeksi Rsc bersifat asimtomatik, sehingga diperlukan metode deteksi dini yang cepat dan non-destruktif. Penelitian ini bertujuan mengembangkan metode deteksi awal BBD dengan menentukan korelasi antara pola spektral, kondisi fisikfisiologis pada kultivar Cavendish, Mas Kirana, dan Kepok yang diinokulasikan Rsc, serta profil ekspresi gen terkait jalur etilen (ACS2, EIL1, dan PR4) pada kultivar Cavendish. Hasil penilaian Disease Severity Index (DSI) pada hari ke-16 menunjukkan tingkat keparahan tertinggi pada Cavendish (90%), diikuti Kepok (87%) dan Mas Kirana (69%). Penurunan kadar klorofil total secara signifikan terjadi pada hari ke-16 di seluruh kultivar terinfeksi, sejalan dengan pelandaian nilai reflektansi spektral pada rentang panjang gelombang 500–700 nm (spektrum absorpsi pigmen fotosintesis) untuk Cavendish dan Kepok. Pada kultivar Cavendish, analisis qRT-PCR menunjukkan peningkatan ekspresi gen pertahanan yang signifikan pada hari ke-16 dibandingkan hari ke-1, dengan kelipatan ekspresi sebesar 9,64 kali (ACS2), 18,53 kali (EIL1), dan 6,06 kali (PR4). Analisis korelasi pada Cavendish menunjukkan bahwa indeks Plant Senescence Reflectance Index (PSRI) berkorelasi positif dengan ekspresi gen, sedangkan indeks Modified Chlorophyll Absorption in Reflectance Index (MCARI) dan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) berkorelasi negatif. Korelasi ini merefleksikan stres dan degradasi pigmen fotosintesis yang berhubungan dengan peningkatan ekspresi gen terkait jalur etilen. Penelitian ini membuktikan bahwa integrasi analisis spektral dan ekspresi genetik pada kultivar rentan seperti Cavendish berpotensi besar sebagai sistem deteksi dini non-destruktif BBD.