Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu wilayah dengan frekuensi kejadian
longsoran yang tinggi, dengan curah hujan sebagai salah satu faktor pemicunya.
Variasi karakteristik curah hujan dan kondisi fisik wilayah menyebabkan ambang
batas curah hujan pemicu longsoran dapat berbeda antarwilayah. Penelitian ini
bertujuan menganalisis karakteristik curah hujan pemicu longsoran, pengaruh curah
hujan dan faktor predisposisi terhadap kejadian longsoran, serta distribusi spasial
ambang batas curah hujan di Jawa Tengah.
Penelitian ini menggunakan data kejadian longsoran tahun 2008–2025 dan curah
hujan GPM IMERG. Data GPM IMERG dikoreksi menggunakan metode Local
Intensity Scaling dengan memanfaatkan data hujan observasi. Curah hujan pada
lokasi kejadian digunakan untuk menghitung event rainfall dan antecedent rainfall
selama 1, 3, 6, dan 8 hari. Ambang batas curah hujan dievaluasi menggunakan
Receiver Operating Characteristic (ROC), sedangkan pengaruh faktor predisposisi
dianalisis menggunakan Random Forest dengan parameter curah hujan, kemiringan
lereng, litologi, jenis tanah, dan penggunaan lahan.
Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar longsoran terjadi pada durasi hujan 1–10
jam. Semakin lama durasi hujan, semakin rendah intensitas yang diperlukan untuk
memicu longsoran. Median akumulasi curah hujan meningkat seiring
bertambahnya durasi akumulasi hujan, yaitu 19,67 mm pada ER24, 42,64 mm pada
AR3, 77,65 mm pada AR6, dan 100,62 mm pada AR8. Litologi merupakan faktor
dengan kontribusi terbesar sebesar 34,1%, diikuti kemiringan lereng 24,9%, jenis
tanah 22,6%, dan penggunaan lahan 18,4%. Model Random Forest menghasilkan
akurasi 0,9033 dan ROC-AUC 0,9668. Ambang batas curah hujan bervariasi secara
spasial dan meningkat seiring bertambahnya durasi akumulasi hujan. Banyumas,
Purbalingga, Banjarnegara, dan Wonosobo menunjukkan kejadian longsoran relatif
banyak dengan ambang batas rendah hingga sedang, yang mengindikasikan
sensitivitas lebih tinggi terhadap hujan.
Perpustakaan Digital ITB