Pasar saham syariah di Indonesia rentan terhadap risiko sistemik akibat meningkatnya keterkaitan antarsaham yang dapat mempercepat penyebaran guncangan di pasar. Namun, penelitian terdahulu umumnya hanya menganalisis struktur keterkaitan antarsaham atau karakteristik volatilitas secara terpisah sehingga belum memberikan gambaran yang komprehensif mengenai risiko sistemik. Penelitian ini bertujuan mengintegrasikan analisis jaringan dinamis dan pemodelan volatilitas untuk mengidentifikasi penyebaran serta persistensi risiko sistemik pada pasar saham syariah Indonesia. Penelitian menggunakan data harga penutupan harian 45 saham yang tergabung dalam Jakarta Islamic Index (JII) selama periode Desember 2020 hingga November 2024. Jaringan saham dikonstruksi menggunakan metode Hutan dari Seluruh Pohon Merentang Minimum (Forest of All Minimum Spanning Trees/FaMST) berbasis Ultrametrik Subdominan (Subdominant Ultrametric/SDU) dengan teknik jendela geser (sliding window), sedangkan volatilitas saham dianalisis menggunakan model heteroskedastik GARCH dan EGARCH.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika keterkaitan antarsaham membentuk tiga kondisi pasar berdasarkan perubahan rerata jarak jaringan. Perubahan tersebut dimodelkan menggunakan ARIMA(1,1,0) untuk menghasilkan proyeksi dinamika keterkaitan antarsaham dalam jangka pendek. Analisis jaringan mengidentifikasi enam saham yang secara konsisten menempati posisi sentral pada lebih dari separuh periode pengamatan, yaitu ANTM, SMGR, ADRO, PTBA, TKIM, dan INDY. Posisi ini menunjukkan bahwa enam saham tersebut memiliki peran penting dalam penyebaran risiko sistemik. Pemodelan volatilitas menunjukkan bahwa lima saham tidak menunjukkan asimetri volatilitas sehingga lebih sesuai dimodelkan menggunakan GARCH(1,1), sedangkan PTBA menunjukkan pola yang berbeda, yaitu kenaikan harga justru memicu volatilitas yang lebih besar dibandingkan penurunan harga dengan besaran yang sama sehingga lebih sesuai dimodelkan menggunakan EGARCH(1,1). Evaluasi persistensi volatilitas menunjukkan bahwa lama bertahan dari pengaruh guncangan terhadap volatilitas berbeda pada setiap saham. ANTM memiliki persistensi volatilitas tertinggi, yaitu sekitar 258 hari perdagangan hingga pengaruh guncangan terhadap volatilitas berkurang menjadi separuhnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sentralitas jaringan dan persistensi volatilitas merupakan dua dimensi risiko yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Sentralitas jaringan menunjukkan potensi suatu saham dalam menyebarkan guncangan kepada saham lain. Adapun persistensi volatilitas menunjukkan lama guncangan tetap bertahan pada saham tersebut. Dengan mempertahankan dua dimensi tersebut secara bersamaan, diperoleh penilaian risiko sistemik yang lebih komprehensif. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengambilan keputusan investasi serta perumusan kebijakan untuk mendukung stabilitas pasar saham syariah di Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB