ABSTRAK
Permasalahan sampah perkotaan di Indonesia masih didominasi oleh
paradigma kumpul-angkut-buang, yang menyebabkan beban berlebih pada Tempat
Pemrosesan Akhir (TPA). Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle
(TPS 3R) berperan strategis dalam mereduksi sampah yang terangkut ke TPA,
namun keberhasilannya sangat bergantung pada efektivitas aspek teknis operasional
yang seringkali menghadapi risiko kegagalan. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis perbedaan risiko kegagalan aspek teknis operasional antara TPS 3R
yang mendapatkan intervensi dan yang tidak mendapatkan intervensi dari LSM X,
serta menerapkan kerangka ISO/IEC 31010:2019 untuk mengidentifikasi,
menganalisis, dan merumuskan strategi mitigasi risiko. Penelitian dilakukan pada
tiga lokasi TPS 3R, yaitu TPS 3R Mutiara Bogor Raya (intervensi), TPS 3R Jalan
Jawa (intervensi), dan TPS 3R Ciparigi 2 (non-intervensi). Metodologi penelitian
mencakup wawancara semi-terstruktur dengan pengelola, penyebaran kuesioner
kepada masyarakat terlayani, dan analisis risiko menggunakan metode Failure
Modes and Effect Analysis (FMEA), Fault Tree Analysis (FTA), Event Tree
Analysis (ETA), serta perumusan strategi mitigasi dengan Bow Tie Analysis. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa intervensi LSM X berhasil menggeser karakteristik
risiko dari permasalahan operasional mendasar menuju tantangan peningkatan
kapasitas dan efisiensi sistem. Risiko prioritas tertinggi pada fasilitas intervensi
adalah ketidakandalan rangkaian pengolahan sampah (RPN 50,17) dan kurangnya
armada pengumpulan sampah (RPN 38,25), sedangkan pada fasilitas non-intervensi
didominasi oleh ketidakkonsistenan alur pengolahan (RPN 50,17) dan tidak adanya
sistem kontrol pemilahan di sumber (RPN 42,75). Analisis probabilitas
menunjukkan risiko kegagalan pewadahan dan pemilahan memiliki probabilitas
tertinggi (85%) pada seluruh lokasi studi. Penerapan kerangka ISO/IEC 31010:2019
terbukti efektif dalam memberikan penilaian risiko yang komprehensif dan
menghasilkan strategi mitigasi yang terarah, mencakup penyusunan standar
operasional prosedur (SOP), penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas sumber
daya manusia, serta perencanaan anggaran operasional yang berkelanjutan.
Perpustakaan Digital ITB