digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Permasalahan sampah perkotaan di Indonesia masih didominasi oleh paradigma kumpul-angkut-buang, yang menyebabkan beban berlebih pada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) berperan strategis dalam mereduksi sampah yang terangkut ke TPA, namun keberhasilannya sangat bergantung pada efektivitas aspek teknis operasional yang seringkali menghadapi risiko kegagalan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan risiko kegagalan aspek teknis operasional antara TPS 3R yang mendapatkan intervensi dan yang tidak mendapatkan intervensi dari LSM X, serta menerapkan kerangka ISO/IEC 31010:2019 untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan merumuskan strategi mitigasi risiko. Penelitian dilakukan pada tiga lokasi TPS 3R, yaitu TPS 3R Mutiara Bogor Raya (intervensi), TPS 3R Jalan Jawa (intervensi), dan TPS 3R Ciparigi 2 (non-intervensi). Metodologi penelitian mencakup wawancara semi-terstruktur dengan pengelola, penyebaran kuesioner kepada masyarakat terlayani, dan analisis risiko menggunakan metode Failure Modes and Effect Analysis (FMEA), Fault Tree Analysis (FTA), Event Tree Analysis (ETA), serta perumusan strategi mitigasi dengan Bow Tie Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi LSM X berhasil menggeser karakteristik risiko dari permasalahan operasional mendasar menuju tantangan peningkatan kapasitas dan efisiensi sistem. Risiko prioritas tertinggi pada fasilitas intervensi adalah ketidakandalan rangkaian pengolahan sampah (RPN 50,17) dan kurangnya armada pengumpulan sampah (RPN 38,25), sedangkan pada fasilitas non-intervensi didominasi oleh ketidakkonsistenan alur pengolahan (RPN 50,17) dan tidak adanya sistem kontrol pemilahan di sumber (RPN 42,75). Analisis probabilitas menunjukkan risiko kegagalan pewadahan dan pemilahan memiliki probabilitas tertinggi (85%) pada seluruh lokasi studi. Penerapan kerangka ISO/IEC 31010:2019 terbukti efektif dalam memberikan penilaian risiko yang komprehensif dan menghasilkan strategi mitigasi yang terarah, mencakup penyusunan standar operasional prosedur (SOP), penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta perencanaan anggaran operasional yang berkelanjutan.