PLTA Tulungagung mengusung pemanfaatan gelombang laut sebagai energi
terbarukan melalui teknologi Wave Energy Converter (WEC) berupa wave mill.
Pemasangan alat di perairan berpotensi mengubah kecepatan arus yang
memengaruhi pola transpor sedimen dan batimetri di sekitarnya. Pantai Niyama,
Tulungagung dipilih sebagai lokasi kajian karena berada dekat PLTA Tulungagung
dan memiliki potensi energi gelombang yang besar akibat berhadapan langsung
dengan Samudra Hindia. Pemodelan numerik dilakukan menggunakan MIKE 21
Flow Model Flexible Mesh (FM) modul Hidrodinamika (HD) dan Sand Transport
(ST) dengan skenario penempatan wave mill pada 4 titik sekaligus,
membandingkan kondisi sebelum (baseline) dan sesudah (farm) pemasangan.
Simulasi dijalankan selama 18 hari (3 hari spin-up dan 15 hari inti) pada setiap
musim di Tahun 2025. Model hidrodinamika terverifikasi akurat terhadap data
observasi (RMSE elevasi 0,097 m, korelasi 0,988; RMSD arus 0,005–0,015 m/dtk,
korelasi 0,859–0,932). Penempatan wave mill hanya menyebabkan perubahan
kecepatan arus yang sangat kecil di seluruh titik dan musim (maksimum 0,006
0,01% dari kecepatan baseline), dengan pengaruh terbesar di T1. Nilai tersebut jauh
di bawah ambang kecepatan kritis inisiasi gerak sedimen, sehingga arus bukan
penyebab utama perubahan dasar perairan. Perubahan batimetri terbesar justru
terjadi di T4, bukan di titik dengan selisih arus terbesar, dengan pola pergantian
tanda mengikuti musim angin muson. Hal ini mengindikasikan gelombang laut
lebih dominan memengaruhi perubahan dasar perairan dibandingkan arus. Secara
keseluruhan, penempatan tiga unit wave mill di 4 titik tidak berpengaruh signifikan
terhadap hidrodinamika dan transpor sedimen di perairan Tulungagung, dengan
pengaruh terhadap arus yang bersifat lokal dan minor.
Perpustakaan Digital ITB