digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Salma Arrihmah Ananda Putri
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

PLTA Tulungagung mengusung pemanfaatan gelombang laut sebagai energi terbarukan melalui teknologi Wave Energy Converter (WEC) berupa wave mill. Pemasangan alat di perairan berpotensi mengubah kecepatan arus yang memengaruhi pola transpor sedimen dan batimetri di sekitarnya. Pantai Niyama, Tulungagung dipilih sebagai lokasi kajian karena berada dekat PLTA Tulungagung dan memiliki potensi energi gelombang yang besar akibat berhadapan langsung dengan Samudra Hindia. Pemodelan numerik dilakukan menggunakan MIKE 21 Flow Model Flexible Mesh (FM) modul Hidrodinamika (HD) dan Sand Transport (ST) dengan skenario penempatan wave mill pada 4 titik sekaligus, membandingkan kondisi sebelum (baseline) dan sesudah (farm) pemasangan. Simulasi dijalankan selama 18 hari (3 hari spin-up dan 15 hari inti) pada setiap musim di Tahun 2025. Model hidrodinamika terverifikasi akurat terhadap data observasi (RMSE elevasi 0,097 m, korelasi 0,988; RMSD arus 0,005–0,015 m/dtk, korelasi 0,859–0,932). Penempatan wave mill hanya menyebabkan perubahan kecepatan arus yang sangat kecil di seluruh titik dan musim (maksimum 0,006 0,01% dari kecepatan baseline), dengan pengaruh terbesar di T1. Nilai tersebut jauh di bawah ambang kecepatan kritis inisiasi gerak sedimen, sehingga arus bukan penyebab utama perubahan dasar perairan. Perubahan batimetri terbesar justru terjadi di T4, bukan di titik dengan selisih arus terbesar, dengan pola pergantian tanda mengikuti musim angin muson. Hal ini mengindikasikan gelombang laut lebih dominan memengaruhi perubahan dasar perairan dibandingkan arus. Secara keseluruhan, penempatan tiga unit wave mill di 4 titik tidak berpengaruh signifikan terhadap hidrodinamika dan transpor sedimen di perairan Tulungagung, dengan pengaruh terhadap arus yang bersifat lokal dan minor.