digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Heart failure merupakan sindrom klinis yang sering disertai gangguan fungsi ginjal akibat hubungan patofisiologis antara jantung dan ginjal. Terapi renin-angiotensin-aldosterone system inhibitors (RAAS inhibitor) merupakan salah satu terapi penting pada pasien heart failure, tetapi penggunaannya perlu disertai pemantauan fungsi ginjal karena dapat memengaruhi laju filtrasi glomerulus (eGFR). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan fungsi ginjal pada pasien heart failure dengan nilai eGFR baseline 15–60 mL/menit/1,73 m² yang menerima RAAS inhibitor setelah follow-up tiga bulan, serta menggambarkan perubahan regimen RAAS inhibitor selama periode pengamatan. Penelitian ini merupakan studi kohort retrospektif menggunakan data rekam medis pasien heart failure rawat jalan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Fungsi ginjal dinilai berdasarkan selisih antara eGFR follow-up tiga bulan dan eGFR baseline. Analisis perubahan eGFR dilakukan menggunakan uji Wilcoxon signed-rank, sedangkan faktor yang berhubungan dengan perburukan eGFR dianalisis menggunakan uji bivariat dan regresi logistik univariat. Sebanyak 104 subjek memenuhi kriteria penelitian. Median ?eGFR sebesar -2,00 mL/menit/1,73 m². Perubahan eGFR tersebut tidak bermakna secara statistik (p = 0,618). Secara kategorik, 60 subjek (57,7%) mengalami perburukan eGFR. Riwayat diabetes melitus merupakan faktor yang berhubungan bermakna dengan perburukan eGFR (OR 7,14; CI 95% 2,26–22,53; p = 0,001). Sebanyak 64 subjek (61,5%) mengalami perubahan regimen RAAS inhibitor, dengan jenis perubahan terbanyak berupa kenaikan dosis. Tidak terdapat hubungan bermakna antara perubahan regimen RAAS inhibitor dan perburukan eGFR (p = 0,397). Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perubahan eGFR yang bermakna setelah follow-up tiga bulan pada pasien heart failure yang menerima RAAS inhibitor, tetapi riwayat diabetes melitus perlu diperhatikan sebagai faktor yang berkaitan dengan perburukan eGFR.