digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Joel Natanael Sibarani
PUBLIC Open In Flipbook Alifah Yusriyah Salsabila

COVER Joel Natanael Sibarani
Terbatas  Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 1 Joel Natanael Sibarani
Terbatas  Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2 Joel Natanael Sibarani
Terbatas  Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 Joel Natanael Sibarani
Terbatas  Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4 Joel Natanael Sibarani
Terbatas  Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5 Joel Natanael Sibarani
Terbatas  Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan

PUSTAKA Joel Natanael Sibarani
Terbatas  Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan

Kangkung ungu (Ipomoea reptans) merupakan salah satu sayuran daun yang berpotensi dikembangkan sebagai pangan fungsional karena mengandung antosianin yang berperan sebagai antioksidan alami. Varietas kangkung ungu hasil pengembangan BRIN masih belum banyak diteliti, terutama terkait perbandingan pertumbuhan, hasil biomassa, dan kandungan antosianin antar varietas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan, hasil, dan kadar antosianin pada kangkung ungu galur Kangu 10, galur Kangu 61, varietas Kangu 71, serta membandingkannya dengan kangkung varietas Bika. Penelitian dilaksanakan di screenhouse dan Laboratorium Teknik IA ITB Jatinangor pada September 2025 hingga Maret 2026 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor berupa varietas dengan empat taraf perlakuan dan enam ulangan. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, diameter batang, bobot segar, bobot kering, serta kadar antosianin. Analisis kadar antosianin dilakukan menggunakan metode pH diferensial dengan spektrofotometer UV-Visible pada panjang gelombang 530 nm dan 700 nm. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antar varietas yang diuji pada parameter pertumbuhan vegetatif, biomassa, dan kandungan antosianin. Varietas Kangu 71 menunjukkan performa pertumbuhan dan hasil biomassa yang lebih baik dibandingkan varietas lainnya, ditunjukkan melalui tinggi tanaman, luas daun, serta bobot segar dan bobot kering yang lebih tinggi. Sementara itu, galur Kangu 10 menunjukkan kandungan antosianin tertinggi dibandingkan galur Kangu 61, varietas Kangu 71, dan varietas Bika. Varietas Bika memiliki kandungan antosianin paling rendah dan juga pertumbuhan vegetatif dan biomassa yang paling rendah.