Sebagian besar cadangan batu bara Indonesia tergolong berkalori rendah, dengan nilai kalori di bawah 4.200 kkal/kg GAR serta kadar air dan abu yang cenderung tinggi. Karakteristik ini membuat harga jualnya lebih rendah dibandingkan batu bara berkalori tinggi, sekaligus menyulitkan pemenuhan kebutuhan pasar ekspor maupun domestik terutama kewajiban Domestic Market Obligation (DMO) sebesar 25% bagi PLTU. Kondisi ini juga dijumpai pada blok penambangan yang diteliti, di mana kualitas batu bara antar seam cukup bervariasi meski secara umum tetap didominasi kadar rendah. Variasi inilah yang mendorong perlunya strategi blending yang tepat, dengan Indonesian Coal Index (ICI) 4 dan ICI 5 digunakan sebagai standar klasifikasi kualitas produk yang dihasilkan. Penelitian ini membandingkan tiga skenario penjualan berdasarkan pendekatan blending yang berbeda: Skenario 1 (pemisahan ICI 4 dan ICI 5), Skenario 2 (blending seluruh produksi menjadi ICI 5), dan Skenario 3 (blending market based yang mengutamakan pemenuhan spesifikasi pasar domestik). Ketiganya dievaluasi dari sisi pendapatan, kelayakan ekonomi (NPV, IRR, payback period), serta konsistensi pemenuhan DMO sepanjang 12 tahun umur tambang. Hasilnya, ketiga skenario sama-sama layak secara ekonomi, dan Skenario 2 unggul dalam NPV dan IRR. Namun hanya Skenario 3 yang mampu memenuhi kewajiban DMO secara konsisten, karena kualitas produknya paling sesuai dengan spesifikasi kalori pasar domestik. Dengan mempertimbangkan kelayakan ekonomi sekaligus kepatuhan terhadap DMO, Skenario 3 dipilih sebagai skenario penjualan terbaik.
Perpustakaan Digital ITB