Cryptocarya merupakan salah satu genus utama dari Famili Lauraceae yang memiliki nilai ekonomi tinggi, antara lain sebagai bahan bangunan, parfum, pulp, dan furnitur. Selain itu, genus ini juga dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi berbagai penyakit, seperti nyeri sendi, nyeri otot, dan infeksi jamur. Salah satu spesies potensial di Indonesia adalah Cryptocarya pulchrinervia, yang tersebar di hutan hujan tropis Sumatra dan Kalimantan. Penelitian fitokimia terhadap daun C. pulchrinervia asal Sumatra yang dibudidayakan di Kebun Raya Bogor menunjukkan adanya kandungan senyawa piron dengan aktivitas sitotoksik tinggi terhadap sel murin leukemia P-388, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai obat antikanker dan suplemen kesehatan. Pemanfaatan lebih lanjut spesies ini memerlukan metode identifikasi yang akurat. Namun, kemiripan morfologi antarspesies Cryptocarya menyulitkan identifikasi secara konvensional, sehingga diperlukan penanda genetik berupa kode batang DNA. Hingga saat ini, data genetik C. pulchrinervia belum tersedia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variasi genetik pada tingkat intraspesifik C. pulchrinervia dan tingkat interspesifik dalam Genus Cryptocarya, serta menentukan kode batang DNA menggunakan marka rbcL dan 18S rRNA (wilayah V1–V6, V7–V8, dan V8–V9). DNA diisolasi dari daun C. pulchrinervia menggunakan metode setiltrimetilamonium bromida (CTAB), kemudian fragmen gen rbcL dan 18S rRNA diamplifikasi, disekuensing, dan dianalisis menggunakan perangkat lunak BioEdit, BLAST, MEGA11, Clustal Omega, dan Bio- Rad DNA Barcode Generator. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya variasi genetik intraspesifik C. pulchrinervia pada lokus kloroplas rbcL dan lokus inti 18S rRNA wilayah V1–V9 dengan tingkat kemiripan genetik sebesar 100%. Analisis filogenetik menunjukkan bahwa marka rbcL dan 18S rRNA wilayah V1–V6 memiliki daya diskriminasi yang tinggi untuk identifikasi hingga tingkat genus, yang didukung oleh keberadaan karakter diagnostik spesifik pada posisi nukleotida tertentu. Sebaliknya, marka 18S rRNA wilayah V7–V9 menunjukkan pola filogenetik yang tidak konsisten dan kurang efektif untuk identifikasi taksonomi. Dengan demikian, marka rbcL dan 18S rRNA wilayah V1–V6 direkomendasikan sebagai kode batang DNA untuk identifikasi C. Pulchrinervia.
Perpustakaan Digital ITB