Sifat elastisitas batuan merupakan parameter fundamental dalam berbagai bidang
karakterisasi geomekanika, hidrokarbon, panas bumi, serta berbagai aplikasi
geofisika lainnya. Kajian sifat batuan menggunakan metode digital rock physics
(DRP) banyak dilakukan karena berbagai kelebihan seperti nondestruktif, dapat
diulangi, dan efisien. Namun, banyak kajian yang masih dilakukan dalam kondisi
statik dan belum mempertimbangkan perubahan mikrostruktur batuan akibat
tekanan. Padahal perubahan geometri pori dan rekahan akibat tekanan dapat
memodifikasi distribusi stiffness serta anisotropi elastik batuan secara signifikan.
Selain itu, ketidakpastian parameter elastisitas mineral lempung, khususnya illite,
masih menjadi salah satu sumber utama deviasi dalam simulasi numerik batuan
digital karena nilai modulus elastiknya diperoleh dari asumsi empiris atau nilai
referensi yang belum tentu sesuai dengan kondisi geologi lokal. Oleh karena itu,
penelitian ini bertujuan untuk (1) mengkuantifikasi hubungan antara geometri pori
seperti aspect ratio, orientasi tiga dimensi, dan dual porosity (porositas ganda)
terhadap parameter elastik batuan; (2) menganalisis hubungan antara evolusi
mikrostruktur akibat pembebanan dengan perubahan anisotropi elastik
menggunakan integrasi pencitraan mikro-CT dan simulasi DRP; serta (3)
mengembangkan inversi berbasis data mineralogi dan data log sumur untuk
mengestimasi modulus bulk dan modulus geser mineral illite sebagai parameter
input yang lebih representatif dalam simulasi DRP batuan mengandung lempung.
Metodologi penelitian yang dilakukan meliputi tiga tahapan utama, yaitu
pembangunan model digital batuan terekah dengan variasi geometri fracture yang
dianalisis menggunakan metode elemen hingga (FEM). Kedua, pengembangan
sistem pencitraan batuan tertekan untuk memperoleh citra digital tiga dimensi
batuan pada berbagai kondisi tekanan yang kemudian dianalisis menggunakan
simulasi DRP berbasis numerik untuk mengetahui distribusi tensor kekakuan dan
anisotropi elastik. Terakhir, pengembangan metode inversi modulus elastisitas
mineral illite menggunakan integrasi data XRD, petrografi, dan data log sumur
melalui pendekatan Voigt-Reuss-Hill (VRH) dan Self-Consistent Approximation
(SCA). Penelitian ini menawarkan kebaruan berupa integrasi multiskala antara
pencitraan digital batuan tertekan, simulasi numerik berbasis FEM, dan data log
sumur dalam kerangka Digital Rock Physics-Well Tie (DWT) untuk
menghubungkan karakteristik mikrostruktur batuan pada skala pori dengan
respons geofisika pada skala lapangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa selain porositas, geometri rekahan
merupakan salah satu pengontrol utama sifat elastik batuan. Pada model rekahan berbentuk elips, peningkatan aspect ratio dari 0,2 menjadi 0,5 menurunkan
konstanta peluruhan eksponensial modulus bulk dari 0,0550 menjadi 0,0215
(sekitar 61%), yang menunjukkan bahwa rekahan dengan aspect ratio lebih besar
menyebabkan penurunan modulus yang lebih lambat akibat distribusi tegangan
yang lebih homogen. Selain itu, variasi orientasi rekahan menghasilkan perubahan
distribusi tegangan, energi elastik, dan tensor kekakuan homogen sehingga pada
konfigurasi model dan prosedur homogenisasi yang digunakan, orientasi sekitar
45° menghasilkan modulus elastik efektif relatif lebih tinggi. Model dual porosity
yang digunakan dalam penelitian menunjukkan bahwa ketika pori matriks tetap,
penambahan volume rekahan akan menjadi faktor dominan yang mengontrol
perubahan nilai modulus.
Pengembangan sistem pembebanan ketika pemindaian berhasil digunakan untuk
mengamati evolusi mikrostruktur batuan selama pembebanan dan
menghubungkannya dengan perubahan sifat elastik hasil simulasi DRP.
Perubahan mikrostruktur seperti pembukaan maupun penutupan fracture terjadi
tidak hanya searah tekanan, melainkan juga secara lateral. Analisis sifat elastisitas
dan anisotropi menggunakan FEM menunjukkan bahwa terdapat empat tahapan
sampai batuan mengalami failure, yaitu initial state, crack closure, pembentukan
fracture baru, dan crack coalescence atau failure. Proses crack closure
diinterpretasikan berdasarkan perubahan morfologi rekahan yang masih dapat
diresolusi, perubahan distribusi intensitas keabuan citra, serta perubahan sifat
elastik hasil simulasi. Pembebanan uniaksial meningkatkan komponen kekakuan
aksial (C33) pada tahap awal akibat peningkatan kontinuitas jalur transfer
tegangan, kemudian menurun menjelang terjadinya kerusakan akibat
berkembangnya rekahan baru. Selain itu, distribusi tegangan yang tidak homogen
menyebabkan bagian distal mengalami penurunan stiffness yang lebih besar
dibandingkan dengan bagian proximal.
Metode inversi berhasil mengestimasi modulus elastik mineral illite yang lebih
representatif dibandingkan dengan penggunaan nilai dari literatur. Pendekatan
VRH menghasilkan modulus bulk dan modulus geser illite masing-masing sebesar
41,87 GPa dan 22,73 GPa, sedangkan pendekatan SCA menghasilkan modulus
bulk sekitar 43-46 GPa dan modulus geser sekitar 14-15 GPa. Perbedaan tersebut
mencerminkan pentingnya memasukkan asumsi geometri matriks dan pori pada
proses inversi. Adapun evaluasi menggunakan data log menunjukkan bahwa
model SCA tiga fasa memberikan kecocokan terbaik dengan nilai MAPE 7,008%
dan RMSE 0,2657 km/s untuk Vp, serta MAPE 9,321% dan RMSE 0,2232 km/s
untuk Vs. Hasil tersebut menunjukkan bahwa integrasi data mineralogi dan log
sumur mampu mengurangi ketidakpastian parameter elastik mineral pada simulasi
DRP serta meningkatkan representasi sifat elastik batuan terhadap kondisi bawah
permukaan.
Perpustakaan Digital ITB