Tambang bawah tanah yang beroperasi pada lingkungan bertemperatur tinggi dan kondisi jenuh
menghadapi tantangan geoteknik akibat perubahan sifat mekanik batuan yang dapat
memengaruhi respons geoteknik dan kestabilan massa batuan. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis pengaruh perlakuan termal terhadap Uniaxial Compressive Strength (UCS) dan
sifat mekanik mortar serta batuan andesit dalam kondisi jenuh, mengevaluasi keterkaitannya
dengan perubahan mikrostruktur dan mineralogi, serta mengevaluasi implikasinya terhadap
respons geoteknik menggunakan pemodelan numerik Finite Element Method (FEM) dua
dimensi.
Perlakuan termal dilakukan pada temperatur 25°C, 100°C, 150°C, dan 200°C. Pengujian
laboratorium meliputi Ultrasonic Pulse Velocity (UPV), Point Load Index (PLI), Brazilian
Tensile Strength (BTS), Uniaxial Compressive Strength (UCS), serta parameter elastik.
Analisis mikrostruktur dan mineralogi dilakukan menggunakan Scanning Electron Microscope
(SEM) dan X-ray Diffraction (XRD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan
temperatur menyebabkan reduksi sifat mekanik pada kedua material, dengan perubahan
terbesar terjadi pada 200°C. Pada temperatur tersebut, nilai UPV mortar dan batuan andesit
mengalami reduksi masing-masing sebesar 11% dan 9%, sedangkan UCS mengalami reduksi
masing-masing sebesar 38% dan 26%. Pada mortar, PLI dan BTS juga mengalami reduksi
masing-masing sebesar 46% dan 44%. Hasil pengamatan SEM menunjukkan terbentuknya
mikroretakan, peningkatan porositas, dan perubahan morfologi permukaan, sedangkan analisis
XRD menunjukkan perubahan komposisi mineral yang berkorelasi dengan reduksi UCS dan
sifat mekanik batuan lainnya.
Respons geoteknik dievaluasi menggunakan pemodelan numerik Finite Element Method
(FEM) dua dimensi dengan perangkat lunak RS2 (Rocscience). Hasil pemodelan menunjukkan
bahwa perubahan sifat mekanik akibat perlakuan termal belum memberikan pengaruh yang
signifikan terhadap kestabilan bukaan pada kondisi aktual. Namun, pada skenario pembesaran
dimensi bukaan, pengaruh temperatur menjadi signifikan yang ditunjukkan oleh peningkatan
deformasi, penurunan Strength Factor, serta peningkatan Yielded Element, terutama pada
bukaan yang lebih besar dan rasio tegangan horizontal yang lebih tinggi. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa evaluasi kestabilan bukaan tambang bawah tanah pada lingkungan
bertemperatur tinggi dan kondisi jenuh perlu mempertimbangkan pengaruh temperatur
terhadap perubahan sifat mekanik batuan sehingga prediksi respons massa batuan menjadi
lebih representatif terhadap kondisi lapangan.
Perpustakaan Digital ITB