digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Bintang Putri Adi
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Emisi CO2 diperkirakan mengalami peningkatan secara global, terutama di negara -negara berkembang seperti Asia dan Amerika Latin. Salah satu dampak peningkatan CO2 yaitu dapat memengaruhi pola sirkulasi atmosfer, termasuk melemahkan sirkulasi Walker dan Hadley yang berperan terhadap pola monsun. Berdasarkan kajian sebelumnya, meskipun ada peningkatan kelembapan, beberapa wilayah dapat mengalami penurunan curah hujan karena melemahnya angin monsun. Untuk itu, penelitian ini akan menganalisis pengaruh kenaikan CO2 di Indonesia terhadap curah hujan terutama yang dipengaruhi oleh angin monsun berdasarkan data proyeksi model iklim global. Pengolahan data pada penelitian ini menggunakan data proyeksi yang bersumber dari Climate Model Intercomparison Project Phase 6 (CMIP6) dengan skenario 1pctCO2 yang dirancang untuk mensimulasikan respon sistem iklim terhadap peningkatan PPM (Parts Per Million) CO2 secara bertahap sebesar satu persen per tahun dari konsentrasi awal pra-industri dengan periode pengamatan dari tahun 1979 – 2014. Data lain yang digunakan sebagai pembanding yaitu data reanalisis Fifth Generation of the European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ERA5) dengan periode pengamatan 1979 - 2014. Metode penelitian ini dilakukan perhitungan bias antara data model dengan data observasi dan dilakukan analisis korelasi pola spasial untuk menilai kesesuaian distribusi spasial curah hujan. Penelitian ini menunjukkan bahwa curah hujan pada model CMIP6 menunjukkan perubahan yang cukup signifikan di berbagai wilayah di Indonesia dibandingkan dengan data reanalisis ERA5. Pola spasial dan temporal curah hujan yang dihasilkan CMIP6 cenderung lebih bervariasi dan menunjukkan bias negatif di sebagian besar wilayah Indonesia, khususnya di kawasan barat seperti Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara, sementara wilayah timur seperti Maluku dan Papua cenderung memperlihatkan bias positif. Nilai pattern correlation juga memiliki nilai yang rendah yaitu rentang 0,4 – 0,7 dan nilai koefisien korelasi yang berada di rentang 0,26 – 0,38 mengindikasikan bahwa skenario kenaikan CO2 sebesar 1% per tahun memberikan pengaruh terhadap jumlah presipitasi di wilayah tropis maritim.