digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800


BAB 1 Benyamin YS Sinaga
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2 Benyamin YS Sinaga
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 Benyamin YS Sinaga
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4 Benyamin YS Sinaga
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5 Benyamin YS Sinaga
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

DAFTAR PUSTAKA Benyamin YS Sinaga
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

Fenomena mud rush merupakan bahaya geoteknik utama pada tambang bawah tanah sistem block caving, yang dipicu oleh flowable material saat kehilangan batas tegangan luluh (yield stress). Penelitian ini menganalisis pengaruh modifikasi geometri cave zone terhadap profil kecepatan dan waktu tempuh material menggunakan pemodelan numerik. Simulasi komputasi dilakukan pada empat penampang vertikal berdimensi 60 meter: seragam (Skenario A), menyempit (Skenario B), melebar (Skenario C), dan kombinasi (Skenario D). Waktu tempuh dihitung melalui integrasi numerik dengan asumsi porositas efektif batuan 30 persen. Hasil menunjukkan bahwa kecepatan berbanding terbalik dengan luas penampang. Skenario B memicu percepatan tertinggi hingga 2,08 kali lipat (1,35 × 10-5 m/s) dan memangkas waktu rambat menjadi hanya 21,55 hari. Sebaliknya, Skenario C efektif meredam tekanan dinamis dengan mendeselerasi laju menjadi 1,68 × 10-6 m/s dan memperpanjang waktu tempuh hingga 52,53 hari, namun berpotensi meningkatkan beban statis penyangga. Skenario D menunjukkan puncak akselerasi lokal 1,02 × 10-5 m/s tepat pada leher penyempitan. Secara fisis, penyempitan ruang terbukti menghasilkan tekanan kejut dinamis (dynamic shock load) yang meruntuhkan tegangan luluh material, sehingga mempersingkat ketersediaan waktu peringatan dini (early warning time). Disimpulkan bahwa geometri cave zone merupakan parameter fundamental yang memengaruhi percepatan sekaligus pemicu insiden mud rush.