Limpasan air tawar sungai tidak hanya mempengaruhi perairan di sekitar
muara, melainkan juga meluas hingga ke laut lepas, serta mempengaruhi
kondisi oseanografis di wilayah sekitarnya. Penelitian ini mengkaji pengaruh
masukan air tawar sungai terhadap sebaran salinitas dan sirkulasi arus di Selat
Badung menggunakan pemodelan sirkulasi laut tiga dimensi (MITgcm)
melalui komparasi tiga skenario: kontrol tanpa masukan sungai (no-river),
fluks permukaan aktual (Real Freshwater Flux, RFF), dan penambahan
volume fluida lokal (Point-Source Input, PSI). Pemodelan dikonfigurasi pada
resolusi spasial tinggi (
m) memanfaatkan data debit sungai dari Balai
Hidrologi dan Lingkungan Keairan (BHLK) yang disesuaikan kebutuhan
pemodelan, gaya penggerak atmosfer ERA5, pasang surut TPXO9, serta
kondisi batas model induk Selat Lombok. Hasil simulasi menunjukkan bahwa
representasi air tawar di pemodelan berpengaruh pada distribusi salinitas di
pesisir. Untuk sungai dengan debit besar di Selat Badung, efek air tawar dapat
dirasakan hingga satu sampai dua kilometer lepas pantai bergantung pada
kondisi perairan. Masukan air tawar dinilai kurang mempengaruhi sirkulasi
arus untuk pemodelan regional pada daerah kajian. Skenario RFF secara
konsisten menghasilkan pengenceran salinitas, luasan plume horizontal
(mencapai dua kali lipat), dan penetrasi vertikal yang lebih besar dibanding
Point-Source Input (PSI). Dampak salinitas RFF terdeteksi hingga beberapa
kilometer dari muara, sedangkan PSI menghasilkan plume yang lebih sempit
dan terkonsentrasi di dekat muara, khususnya pada sungai berdebit kecil.
Hasil ini menunjukkan bahwa RFF lebih efektif untuk pemodelan limpasan
skala regional Selat Badung, sementara PSI lebih sesuai untuk analisis
dinamika lokal di sekitar muara.
Perpustakaan Digital ITB