Sistem Bus Rapid Transit (BRT) Transjakarta merupakan angkutan umum massal yang
telah beroperasi sejak tahun 2004 dan merupakan BRT dengan jalur terpanjang di dunia yang
melayani pergerakan mobilitas masyarakat di Kawasan Metropolitan Jakarta. Namun, di balik
pencapaian operasional dan pertumbuhan volume angkutan penumpang yang masif, fakta di
lapangan menunjukkan bahwa frekuensi kecelakaan BRT Transjakarta masih terbilang tinggi
dan menjadi tantangan kritis yang dapat mengancam keberlangsungan sistem transportasi ini.
Dengan tingginya frekuensi kecelakaan BRT Transjakarta, analisis pada kejadian kecelakaan
BRT masih bersifat umum dan belum berfokus pada lokasi-lokasi yang rawan kecelakaan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keselamatan operasional BRT Transjakarta,
mengidentifikasi lokasi rawan kecelakaan, mendiagnosis permasalahan keselamatan penyebab
kecelakaan, serta merumuskan rekomendasi penangan dan mitigasi yang sesuai dengan
kebutuhan lokasi rawan tersebut.
Metodologi yang digunakan pada penelitian ini mengintegrasikan pendekatan
kuantitatif meliputi karakteristik kecelakaan lalu lintas berdasarkan data historis kecelakaan
BRT yang kemudian diproyeksikan menggunakan software Google Earth dan QGIS untuk
memetakan persebaran kecelakaan BRT Transjakarta. Untuk menentukan lokasi rawan
kecelakaan, digunakan algoritma Density-Based Spatial Clustering of Applications with Noise
(DBSCAN) pada QGIS dengan ketentuan jarak antar kecelakaan maksimal 300 meter dan
minimal klaster enam kecelakaan. Hasil tahap ini kemudian ditelaah lebih mendalam melalui
pendekatan kualitatif. Pendekatan ini difokuskan untuk mendiagnosis permasalahan
keselamatan yang menyebabkan kecelakaan lokasi rawan yang telah teridentifikasi. Pendekatan
dilanjutkan dengan melakukan analisis kesenjangan dengan membandingkan kondisi eksisting
lokasi rawan dengan standar BRT menurut ITDP tahun 2024 yang akan menghasilkan
rekomendasi penangan dan mitigasi untuk menutup celah kesenjangan tersebut.
Hasil analisis menunjukkan bahwa kecelakaan BRT Transjakarta paling sering terjadi
di pagi hari, tepatnya pada jam puncak pagi hari akibat mobilitas masyarakat yang tinggi ke
arah kawasan metropolitan Jakarta. Ditemukan juga bahwa tipe kecelakaan yang paling sering
terjadi adalah tabrak depan-belakang antara BRT dengan kendaraan lain dengan interaksi
kecelakaan terbanyak dengan pengendara sepeda motor. Hasil klasterisasi menggunakan
algoritma DBSCAN menemukan empat kawasan koridor BRT Transjakarta yang teridentifikasi
sebagai lokasi rawan yang secara kualitatif menunjukkan diagnosis permasalahan keselamatan
yang sama yaitu lemahnya faktor infrastruktur yang mendukung sistem operasional BRT
Transjakarta. Keempat lokasi ini teridentifikasi tidak didukung dengan jalur khusus BRT yang
konsisten dan kontinu yang membuat BRT memiliki potensi berada di lajur yang sama dengan
lalu lintas umum. Hasil diagnosis juga menemukan beberapa kelemahan infrastruktur yang
berbeda pada setiap lokasi, meliputi konflik pada area putar balik yang memotong jalur BRT,
tidak adanya sarana infrastruktur yang memadai dan berkeselamatan bagi pejalan kaki dan
pesepeda, hingga ketiadaan penerapan fase sinyal khusus BRT pada persimpangan. Penelitian
ini memberikan sejumlah rekomendasi untuk mengurangi kejadian kecelakaan pada lokasi
rawan. Rekomendasi prioritas berupa pemasangan barrier fisik secara kontinu pada seluruh
segmen rawan yang dilintasi jalur BRT. Adapun rekomendasi pendukung lainnya seperti
penerapan fase sinyal khusus BRT dan pejalan kaki serta kajian ulang pada beberapa U-Turn.
Perpustakaan Digital ITB