digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Sistem Bus Rapid Transit (BRT) Transjakarta merupakan angkutan umum massal yang telah beroperasi sejak tahun 2004 dan merupakan BRT dengan jalur terpanjang di dunia yang melayani pergerakan mobilitas masyarakat di Kawasan Metropolitan Jakarta. Namun, di balik pencapaian operasional dan pertumbuhan volume angkutan penumpang yang masif, fakta di lapangan menunjukkan bahwa frekuensi kecelakaan BRT Transjakarta masih terbilang tinggi dan menjadi tantangan kritis yang dapat mengancam keberlangsungan sistem transportasi ini. Dengan tingginya frekuensi kecelakaan BRT Transjakarta, analisis pada kejadian kecelakaan BRT masih bersifat umum dan belum berfokus pada lokasi-lokasi yang rawan kecelakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keselamatan operasional BRT Transjakarta, mengidentifikasi lokasi rawan kecelakaan, mendiagnosis permasalahan keselamatan penyebab kecelakaan, serta merumuskan rekomendasi penangan dan mitigasi yang sesuai dengan kebutuhan lokasi rawan tersebut. Metodologi yang digunakan pada penelitian ini mengintegrasikan pendekatan kuantitatif meliputi karakteristik kecelakaan lalu lintas berdasarkan data historis kecelakaan BRT yang kemudian diproyeksikan menggunakan software Google Earth dan QGIS untuk memetakan persebaran kecelakaan BRT Transjakarta. Untuk menentukan lokasi rawan kecelakaan, digunakan algoritma Density-Based Spatial Clustering of Applications with Noise (DBSCAN) pada QGIS dengan ketentuan jarak antar kecelakaan maksimal 300 meter dan minimal klaster enam kecelakaan. Hasil tahap ini kemudian ditelaah lebih mendalam melalui pendekatan kualitatif. Pendekatan ini difokuskan untuk mendiagnosis permasalahan keselamatan yang menyebabkan kecelakaan lokasi rawan yang telah teridentifikasi. Pendekatan dilanjutkan dengan melakukan analisis kesenjangan dengan membandingkan kondisi eksisting lokasi rawan dengan standar BRT menurut ITDP tahun 2024 yang akan menghasilkan rekomendasi penangan dan mitigasi untuk menutup celah kesenjangan tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa kecelakaan BRT Transjakarta paling sering terjadi di pagi hari, tepatnya pada jam puncak pagi hari akibat mobilitas masyarakat yang tinggi ke arah kawasan metropolitan Jakarta. Ditemukan juga bahwa tipe kecelakaan yang paling sering terjadi adalah tabrak depan-belakang antara BRT dengan kendaraan lain dengan interaksi kecelakaan terbanyak dengan pengendara sepeda motor. Hasil klasterisasi menggunakan algoritma DBSCAN menemukan empat kawasan koridor BRT Transjakarta yang teridentifikasi sebagai lokasi rawan yang secara kualitatif menunjukkan diagnosis permasalahan keselamatan yang sama yaitu lemahnya faktor infrastruktur yang mendukung sistem operasional BRT Transjakarta. Keempat lokasi ini teridentifikasi tidak didukung dengan jalur khusus BRT yang konsisten dan kontinu yang membuat BRT memiliki potensi berada di lajur yang sama dengan lalu lintas umum. Hasil diagnosis juga menemukan beberapa kelemahan infrastruktur yang berbeda pada setiap lokasi, meliputi konflik pada area putar balik yang memotong jalur BRT, tidak adanya sarana infrastruktur yang memadai dan berkeselamatan bagi pejalan kaki dan pesepeda, hingga ketiadaan penerapan fase sinyal khusus BRT pada persimpangan. Penelitian ini memberikan sejumlah rekomendasi untuk mengurangi kejadian kecelakaan pada lokasi rawan. Rekomendasi prioritas berupa pemasangan barrier fisik secara kontinu pada seluruh segmen rawan yang dilintasi jalur BRT. Adapun rekomendasi pendukung lainnya seperti penerapan fase sinyal khusus BRT dan pejalan kaki serta kajian ulang pada beberapa U-Turn.