Penelitian ini menganalisis kelayakan investasi penambangan batubara kalori
rendah, dengan membandingkan dua skema penjualan, yaitu penjualan umum dan
penjualan mulut tambang kepada PLTU, menggunakan pendekatan Discounted
Cash Flow (DCF) dan Real Option Valuation (ROV). Produksi batubara
direncanakan berlangsung selama 13 tahun, yaitu 2027–2039, dengan kualitas ratarata
kalori 3.580 kcal/kg. Hasil DCF menunjukkan skema penjualan umum
menghasilkan NPV sebesar Rp29,52 miliar dengan IRR 11,03%, sedangkan skema
mulut tambang menghasilkan NPV Rp247,98 miliar dengan IRR 16,37%, yang
mengindikasikan bahwa skema mulut tambang lebih layak secara ekonomi karena
mekanisme harga cost-plus margin yang menyesuaikan harga jual terhadap
perubahan biaya. Analisis sensitivitas menunjukkan skema penjualan umum sangat
rentan terhadap penurunan harga jual, sehingga diperlukan pendekatan ROV untuk
menangkap risiko dan peluang akibat fluktuasi harga yang tidak dapat ditangkap
oleh metode DCF konvensional. Pemodelan ROV menggunakan model binomial
dengan volatilitas harga sebesar 190% yang diperoleh dari data historis Harga
Batubara Acuan (HBA) periode 2017–2026, menghasilkan nilai opsi sebesar
Rp573,91 miliar, dengan option premium sebesar Rp544,38 miliar sebagai nilai
tambah dari fleksibilitas manajerial, berupa keputusan hold pada jalur harga naik
dan abandon pada jalur harga turun. Penelitian ini menunjukkan bahwa metode
ROV mampu menangkap nilai fleksibilitas manajerial yang tidak tertangkap oleh
metode DCF dalam kondisi ketidakpastian harga batubara yang tinggi.
Perpustakaan Digital ITB