digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Penelitian ini berfokus pada evaluasi kelayakan ekonomi dan optimalisasi royalti pada proyek pertambangan nikel laterit dengan membandingkan dua regulasi Harga Patokan Mineral (HPM), yaitu Kcputusan Mcntcri Encrgi dan Sumbcr Daya Mineral Nomor 144.K/MB.0I/MEM.B/2026 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 268.K/MB.0l/MEM.B/2025 tentang Pedoman Penetapan Harga Patokan untuk Penjualan Komoditas Mineral Logam dan Batubara. Analisis dilakukan terhadap tiga skenario utama, meliputi skenario tambang saja, skenario tambang dan pengolahan secara terintegrasi, serta skcnario tambang dan pcngolahan sccara tcrpisah ????<;tandalone), untuk mengevaluasi parameter finansial kelayakan proyek. Batas tarif royalti disimulasikan menggunakan konsep analisis break-even point terhadap kelayakan proyek yang ditinjau dari nilai Net Present Value (NPV) danEnding Cash Balance. Hasil penelitian menunjukkan bahwa regulasi barn memberikan peningkatan nilai ekonomi pada proyek penambangan nikel laterit sehingga terdapat potensi bagi pcmcrintah untuk mcmaksimalkan pencrimaan negara. Tarif royalti optimal yang menjaga keseimbangan antara penerimaan negara dan kelayakan perusahaan pada skenario HPM 2025 adalah sebesar l 7%-20% untuk High Grade Ore (HGO) dan 5%-8% untuk Low Grade Ore (LGO). Pada HPM 2026, tarif optimal berada pada rentang 35%-44% untuk HGO dan 23%-32% untuk LGO. Sementara itu, tarif optimal untuk produk olahan berada pada rentang sebesar 9%-16% untuk Nickel Pig Iron (NPI) dan 6%-13% untuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).