Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) memiliki peran strategis dalam
sistem kelistrikan nasional karena memiliki efisiensi termal yang tinggi,
fleksibilitas operasi, naik turun beban yang cepat dan emisi yang lebih rendah
dibandingkan pembangkit batubara. Namun, dalam konteks transisi energi, PLTGU
tidak hanya dituntut andal, namun juga harus mampu beroperasi secara efisien.
Oleh karena itu, peningkatan efisiensi PLTGU menjadi kebutuhan strategis agar
pembangkit gas yang masih beroperasi dapat tetap kompetitif, relevan, dan
mendukung agenda transisi energi nasional. Salah satu aspek efisiensi yang perlu
diperhatikan adalah konsumsi air umpan pada Heat Recovery Steam Generator
(HRSG), karena kehilangan air pada sistem ini tidak hanya meningkatkan
kebutuhan air demineralisasi dan bahan kimia, tetapi juga menyebabkan kehilangan
energi termal dari siklus uap.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi konsumsi air umpan HRSG di PLTGU
Blok III, mengidentifikasi sumber pemborosan air, menghitung kerugian air dan
energi akibat excess blowdown, menganalisis penyebab teknis melalui Root Cause
Failure Analysis (RCFA) dan Failure Mode and Effects Analysis (FMEA), serta
menyusun rekomendasi perbaikan operasi dan pemeliharaan. Metode penelitian
dilakukan melalui analisis data operasi aktual, data Distributed Control System
(DCS), logsheet operasi, data kualitas kimia air HRSG, histori gangguan dan
pemeliharaan Maximo, inspeksi lapangan, pengukuran thermography, serta
evaluasi berbasis Heat and Mass Balance (HMB). Laju blowdown dihitung
menggunakan pendekatan siklus penuh-kosong tangki blowdown, kemudian
dibandingkan dengan batas acuan 43 m³/hari untuk setiap HRSG. Selisih laju
blowdown aktual yang melebihi batas tersebut dikategorikan sebagai excess
blowdown dan digunakan sebagai dasar perhitungan rugi-rugi air, energi, dan
ekonomi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa HRSG 3.1 masih berada di bawah batas acuan
blowdown selama periode 2023–2025, yaitu sebesar 20,10; 22,95; dan 41,41
m³/hari. Sebaliknya, HRSG 3.2 secara konsisten menunjukkan blowdown berlebih,
yaitu sebesar 59,61; 66,12; dan 67,52 m³/hari pada periode yang sama. Excess
blowdown HRSG 3.2 meningkat dari 16,61 m³/hari pada tahun 2023 menjadi 24,52
m³/hari pada tahun 2025, dengan rugi-rugi energi meningkat dari 13.666.079
kJ/hari menjadi 21.261.621 kJ/hari. Kerugian ini tidak hanya merepresentasikan
kehilangan air dan energi pada jalur blowdown, tetapi juga berdampak terhadap
pemanfaatan energi pada siklus PLTGU, khususnya kinerja ST 3.3. Evaluasi
sebelum dan sesudah first line maintenance menunjukkan bahwa blowdown losses
turun dari 2.279,58 kg/jam menjadi 237,61 kg/jam, sedangkan beban ST 3.3
meningkat dari 236,30 MW menjadi 243,36 MW. Pada periode yang sama, efisiensi
ST meningkat dari 50,49% menjadi 52,36%. Data ini menunjukkan bahwa
perbaikan kebocoran blowdown berkorelasi dengan peningkatan pemanfaatan
energi pada siklus uap dan berkontribusi terhadap peningkatan output PLTGU.
Analisis RCFA menunjukkan bahwa pemborosan konsumsi air HRSG tidak hanya
disebabkan oleh kebutuhan pengendalian kualitas air, tetapi juga dipengaruhi oleh
keterbatasan sistem pemantauan, ketiadaan flowmeter khusus pada jalur blowdown,
tidak adanya alarm langsung untuk mendeteksi hidden blowdown loss, serta potensi
internal passing pada katup blowdown. Hasil FMEA menempatkan ketiadaan alarm
langsung sebagai salah satu risiko tertinggi, diikuti oleh erosi trim/cage/outlet
akibat two-phase flashing dan internal passing pada HP intermittent blowdown
valve. Rekomendasi perbaikan yang diusulkan meliputi pengembangan dashboard
monitoring berbasis neraca massa HRSG, alarm deviasi konsumsi air, inspeksi
thermography, inspeksi trim dan seat, pembaruan SOP blowdown berbasis kualitas
air, serta strategi pemeliharaan berbasis prioritas risiko. Dengan demikian,
perbaikan konsumsi air umpan HRSG terbukti dapat menurunkan pemborosan air,
mengurangi kehilangan energi, mendukung peningkatan efisiensi turbin uap, dan
memperkuat posisi PLTGU sebagai pembangkit transisi yang efisien.
Perpustakaan Digital ITB