digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) memiliki peran strategis dalam sistem kelistrikan nasional karena memiliki efisiensi termal yang tinggi, fleksibilitas operasi, naik turun beban yang cepat dan emisi yang lebih rendah dibandingkan pembangkit batubara. Namun, dalam konteks transisi energi, PLTGU tidak hanya dituntut andal, namun juga harus mampu beroperasi secara efisien. Oleh karena itu, peningkatan efisiensi PLTGU menjadi kebutuhan strategis agar pembangkit gas yang masih beroperasi dapat tetap kompetitif, relevan, dan mendukung agenda transisi energi nasional. Salah satu aspek efisiensi yang perlu diperhatikan adalah konsumsi air umpan pada Heat Recovery Steam Generator (HRSG), karena kehilangan air pada sistem ini tidak hanya meningkatkan kebutuhan air demineralisasi dan bahan kimia, tetapi juga menyebabkan kehilangan energi termal dari siklus uap. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi konsumsi air umpan HRSG di PLTGU Blok III, mengidentifikasi sumber pemborosan air, menghitung kerugian air dan energi akibat excess blowdown, menganalisis penyebab teknis melalui Root Cause Failure Analysis (RCFA) dan Failure Mode and Effects Analysis (FMEA), serta menyusun rekomendasi perbaikan operasi dan pemeliharaan. Metode penelitian dilakukan melalui analisis data operasi aktual, data Distributed Control System (DCS), logsheet operasi, data kualitas kimia air HRSG, histori gangguan dan pemeliharaan Maximo, inspeksi lapangan, pengukuran thermography, serta evaluasi berbasis Heat and Mass Balance (HMB). Laju blowdown dihitung menggunakan pendekatan siklus penuh-kosong tangki blowdown, kemudian dibandingkan dengan batas acuan 43 m³/hari untuk setiap HRSG. Selisih laju blowdown aktual yang melebihi batas tersebut dikategorikan sebagai excess blowdown dan digunakan sebagai dasar perhitungan rugi-rugi air, energi, dan ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa HRSG 3.1 masih berada di bawah batas acuan blowdown selama periode 2023–2025, yaitu sebesar 20,10; 22,95; dan 41,41 m³/hari. Sebaliknya, HRSG 3.2 secara konsisten menunjukkan blowdown berlebih, yaitu sebesar 59,61; 66,12; dan 67,52 m³/hari pada periode yang sama. Excess blowdown HRSG 3.2 meningkat dari 16,61 m³/hari pada tahun 2023 menjadi 24,52 m³/hari pada tahun 2025, dengan rugi-rugi energi meningkat dari 13.666.079 kJ/hari menjadi 21.261.621 kJ/hari. Kerugian ini tidak hanya merepresentasikan kehilangan air dan energi pada jalur blowdown, tetapi juga berdampak terhadap pemanfaatan energi pada siklus PLTGU, khususnya kinerja ST 3.3. Evaluasi sebelum dan sesudah first line maintenance menunjukkan bahwa blowdown losses turun dari 2.279,58 kg/jam menjadi 237,61 kg/jam, sedangkan beban ST 3.3 meningkat dari 236,30 MW menjadi 243,36 MW. Pada periode yang sama, efisiensi ST meningkat dari 50,49% menjadi 52,36%. Data ini menunjukkan bahwa perbaikan kebocoran blowdown berkorelasi dengan peningkatan pemanfaatan energi pada siklus uap dan berkontribusi terhadap peningkatan output PLTGU. Analisis RCFA menunjukkan bahwa pemborosan konsumsi air HRSG tidak hanya disebabkan oleh kebutuhan pengendalian kualitas air, tetapi juga dipengaruhi oleh keterbatasan sistem pemantauan, ketiadaan flowmeter khusus pada jalur blowdown, tidak adanya alarm langsung untuk mendeteksi hidden blowdown loss, serta potensi internal passing pada katup blowdown. Hasil FMEA menempatkan ketiadaan alarm langsung sebagai salah satu risiko tertinggi, diikuti oleh erosi trim/cage/outlet akibat two-phase flashing dan internal passing pada HP intermittent blowdown valve. Rekomendasi perbaikan yang diusulkan meliputi pengembangan dashboard monitoring berbasis neraca massa HRSG, alarm deviasi konsumsi air, inspeksi thermography, inspeksi trim dan seat, pembaruan SOP blowdown berbasis kualitas air, serta strategi pemeliharaan berbasis prioritas risiko. Dengan demikian, perbaikan konsumsi air umpan HRSG terbukti dapat menurunkan pemborosan air, mengurangi kehilangan energi, mendukung peningkatan efisiensi turbin uap, dan memperkuat posisi PLTGU sebagai pembangkit transisi yang efisien.