Penelitian ini mengevaluasi dan inspeksi karakterisik uji radiografi industri pada
logam dan non-logam untuk optimisasi hasil yang dilakukan di KST. B.J. Habibie,
KST. G.A. Siwabessy dan Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia. Tujuan riset
adalah analisis keberterimaan dari parameter-parameter atau karakteristik uji
radiografi, baik dari sumber radiasi, spesimen uji dan peralatan untuk menghasilkan
gambar atau citra yang dapat diterima sesuai dengan ketentuan standar ASME, ISO
dan ASTM.
Beberapa sampel berupa logam berbentuk pelat dan pipa serta beberapa non-logam
(beton, plastik, buah, batu, kayu) diuji menggunakan radiografi konvensional,
computed radiography, dan digital detector array. Hasil penelitian menunjukkan
kebutuhan standardisasi desain ruang sinar-X dan/atau sinar gamma, perlunya
kompetensi personel tersertifikasi, harmonisasi hasil interpretasi film atau citra
digital. Dari hasil pengukuran dosis pekerja radiasi, dosis kerja tahunan tertinggi
sebesar 3,32 mSv, yang mewakili 16,6% dari nilai batas dosis yang diizinkan.
Parameter-parameter seperti energi atau kV, jenis material, jarak penyinaran, merk
dan jenis film, jenis dan tebal screen, kondisi pemrosesan (jenis developer,
temperatur dan waktu), densitas, dan noise sangat menentukan hasil akhir untuk
interpretasi apakah hasilnya diterima atau ditolak. Keberterimaan hasil pada
radiografi konvensional dengan terpenuhinya sistem identifikasi, marker lokasi,
cacat film pada daerah baca, penampakan kawat indikator kualitas bayangan, citra
huruf B, densitas radiograf, dan variasi densitas, sedangkan pada digital radiografi
seperti CR dan DDA terpenuhinya grey value, resolusi spasial dasar, signal-tonoise ratio dan contrast-to-noise ratio. Penggunaan teknologi seperti machine
learning dilakukan untuk mendukung studi dan memberikan dampak positif bagi
operator dalam memprediksi dini jenis cacat pada logam. Penelitian uji tak rusak
radiografi industri dapat digunakan baik pada logam dan non-logam.
Perpustakaan Digital ITB