Lampu LED telah menjadi beban penerangan dominan di sektor rumah
tangga, namun driver berbasis Switching Mode Power Supply (SMPS) tanpa
koreksi faktor daya menjadikannya beban non-linier yang menginjeksikan arus
harmonik ke jaringan. Sebagian besar penelitian terdahulu berfokus pada lampu
LED berdaya rendah (di bawah 25 W) dengan satu sumber tegangan, sementara
karakteristik lampu LED berdaya menengah belum banyak dikaji secara komparatif
antar sumber. Penelitian ini menganalisis harmonik dan kualitas daya lampu LED
30 W merek Philips TrueForce Essentials Cool Daylight pada pembebanan
bertahap 1 hingga 8 lampu menggunakan dua sumber tegangan berbeda, yaitu AC
Power Supply (ACPS) Lisun LSP-500VA dan jala-jala PLN (GRID). Karakterisasi
fotometri dilakukan dengan integrating sphere LCPE-3/LMS-7000, sedangkan
parameter kualitas daya direkam dengan osiloskop Micsig STo1104E dan diolah
melalui Transformasi Fourier (FFT), kemudian trennya diramalkan melalui regresi
linear, regresi polinomial orde-2, dan rekonstruksi spektrum harmonik. Hasil
karakterisasi fotometri menunjukkan fluks luminus rata-rata 3,293 lm (?5,9%
terhadap nominal 3,500 lm), CCT sekitar 6,653 K, CRI Ra sekitar 82,8, dan efikasi
sekitar 112,9 lm/W. Hasil pengukuran kualitas daya memperlihatkan distorsi
harmonik arus (THDi) yang sangat tinggi, yaitu 96–120% pada ACPS dan 111–
115% pada GRID, jauh melampaui batas emisi harmonik. Distorsi harmonik
tegangan (THDv) pada ACPS meningkat hingga 7,6% seiring beban-melampaui
batas 5% SPLN D5.004-1:2012-sedangkan THDv pada GRID stabil rendah sekitar
1,6%, membuktikan impedansi internal ACPS jauh lebih besar daripada PLN.
Faktor daya total (TPF) kedua sumber tetap rendah, yaitu 0,51–0,67, akibat
gabungan distorsi arus dan pergeseran fasa. Arus RMS dan daya aktif meningkat
linear (R² ? 1,0) sehingga andal diramalkan hingga 24 lampu, sedangkan sebagian
parameter THD dan faktor daya tidak andal diramalkan dan lebih tepat ditampilkan
nilai rata-ratanya.
Perpustakaan Digital ITB