digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Lampu LED telah menjadi beban penerangan dominan di sektor rumah tangga, namun driver berbasis Switching Mode Power Supply (SMPS) tanpa koreksi faktor daya menjadikannya beban non-linier yang menginjeksikan arus harmonik ke jaringan. Sebagian besar penelitian terdahulu berfokus pada lampu LED berdaya rendah (di bawah 25 W) dengan satu sumber tegangan, sementara karakteristik lampu LED berdaya menengah belum banyak dikaji secara komparatif antar sumber. Penelitian ini menganalisis harmonik dan kualitas daya lampu LED 30 W merek Philips TrueForce Essentials Cool Daylight pada pembebanan bertahap 1 hingga 8 lampu menggunakan dua sumber tegangan berbeda, yaitu AC Power Supply (ACPS) Lisun LSP-500VA dan jala-jala PLN (GRID). Karakterisasi fotometri dilakukan dengan integrating sphere LCPE-3/LMS-7000, sedangkan parameter kualitas daya direkam dengan osiloskop Micsig STo1104E dan diolah melalui Transformasi Fourier (FFT), kemudian trennya diramalkan melalui regresi linear, regresi polinomial orde-2, dan rekonstruksi spektrum harmonik. Hasil karakterisasi fotometri menunjukkan fluks luminus rata-rata 3,293 lm (?5,9% terhadap nominal 3,500 lm), CCT sekitar 6,653 K, CRI Ra sekitar 82,8, dan efikasi sekitar 112,9 lm/W. Hasil pengukuran kualitas daya memperlihatkan distorsi harmonik arus (THDi) yang sangat tinggi, yaitu 96–120% pada ACPS dan 111– 115% pada GRID, jauh melampaui batas emisi harmonik. Distorsi harmonik tegangan (THDv) pada ACPS meningkat hingga 7,6% seiring beban-melampaui batas 5% SPLN D5.004-1:2012-sedangkan THDv pada GRID stabil rendah sekitar 1,6%, membuktikan impedansi internal ACPS jauh lebih besar daripada PLN. Faktor daya total (TPF) kedua sumber tetap rendah, yaitu 0,51–0,67, akibat gabungan distorsi arus dan pergeseran fasa. Arus RMS dan daya aktif meningkat linear (R² ? 1,0) sehingga andal diramalkan hingga 24 lampu, sedangkan sebagian parameter THD dan faktor daya tidak andal diramalkan dan lebih tepat ditampilkan nilai rata-ratanya.