Industri kedai kopi di Indonesia berkembang dalam pasar red ocean yang sangat ketat, di mana pelaku usaha independen terus-menerus dihadapkan pada tantangan stagnasi pendapatan dan sulitnya mempertahankan pelanggan. Penelitian ini mengkaji apakah intervensi pemasaran yang terintegrasi, yang disusun berdasarkan RACE Framework (Reach, Act, Convert, Engage), sebuah model pemasaran digital yang dikembangkan Chaffey (2022) untuk memandu bisnis melewati keseluruhan siklus perjalanan pelanggan, mampu meningkatkan pertumbuhan pendapatan dan retensi pelanggan di Kopi Takua, sebuah kedai kopi independen yang berlokasi di kawasan permukiman dengan visibilitas jalan yang terbatas di Jakarta.
Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental satu kelompok pretest-posttest, dengan membandingkan periode baseline 15 hari terhadap periode intervensi aktif 15 hari, menggunakan data transaksi harian sebagai unit analisis (n = 30 observasi). Intervensi yang diterapkan mencakup tiga manipulasi strategis yang masing-masing selaras dengan tahapan RACE: pemasangan spanduk QR fisik sebagai penunjuk arah lokasi dan kemitraan konten di Instagram (Reach); penerapan bundling produk strategis dan mekanisme upselling (Convert); serta peluncuran program kartu loyalitas fisik (Engage).
Analisis kuantitatif melalui regresi berganda dan path modeling menunjukkan bahwa Pola Pengeluaran Pelanggan (Customer Spending Patterns), konstruk perilaku yang mengintegrasikan Nilai Transaksi Rata-rata (ATV) dan Frekuensi Pembelian, terbukti menjadi prediktor paling dominan terhadap total pendapatan (? = 0,923, p < 0,001, R² = 0,991). Sementara itu, Visibilitas Merek (Brand Visibility), meski efektif secara operasional dalam mendatangkan foot traffic, tidak menunjukkan hubungan langsung yang signifikan secara statistik dengan total pendapatan (p = 0,314). Temuan ini mengindikasikan bahwa mekanisme konversi pada level transaksi jauh lebih berpengaruh dibandingkan eksposur digital secara luas, khususnya dalam konteks kedai kopi yang menghadapi keterbatasan visibilitas lokasi.
Perlu ditegaskan bahwa meskipun temuan penelitian ini konsisten dengan adanya peningkatan kinerja bisnis dan stabilitas pelanggan, ketahanan organisasional (organizational resilience) tidak diukur secara langsung dan tidak seharusnya dimaknai sebagai hasil yang telah terbukti secara empiris. Penelitian ini juga mengakui sejumlah keterbatasan, antara lain cakupan yang hanya melibatkan satu unit usaha, periode observasi yang relatif singkat, serta tidak adanya kelompok kontrol teracak, yang secara keseluruhan membatasi sejauh mana temuan ini dapat digeneralisasi.
Perpustakaan Digital ITB