Abstrak - MELVINA DWI TAMARA
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
COVER Melvina Dwi Tamara
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 1 Melvina Dwi Tamara
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Melvina Dwi Tamara
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Melvina Dwi Tamara
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Melvina Dwi Tamara
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Melvina Dwi Tamara
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 6 Melvina Dwi Tamara
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA Melvina Dwi Tamara
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
LAMPIRAN Melvina Dwi Tamara
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terdapat beberapa hal yang memengaruhi perancangan struktur anjungan lepas
pantai tetap, di antaranya: kondisi beban lingkungan, batimetri, target kapasitas
produksi, dan aspek geoteknik setempat. Beban lingkungan, dalam hal ini adalah
gelombang, secara fundamental bersifat dinamik, yang jika diinteraksikan dengan
struktur anjungan lepas pantai di laut dangkal akan memicu fenomena fatik. Studi
ini hendak merancang struktur anjungan lepas pantai tetap di Republik Angola dan
membandingkan karakteristik fatik strukturnya terhadap beban lingkungan yang
ada di Indonesia. Analisis in-place akan dilakukan terhadap suatu model numerik
struktur anjungan lepas pantai tetap tipe jacket 4 kaki menggunakan perangkat
lunak Bentley SACS v.12. Konfigurasi bracing yang digunakan adalah tipe
diagonal bracing. Elevasi dasar laut dangkal tipikal yang digunakan adalah 48.77
m dari mean low water (MLW). Elevasi dek terendah, sub-cellar deck, sebesar 7.89
m dari MLW. Struktur didesain menggunakan metode working stress design
(WSD), mengacu kepada API RP2A-WSD 22nd Edition untuk umur rencana 30
tahun pada kondisi operating dan storm. Material baja yang digunakan adalah
ASTM A572 Gr. 60 untuk penampang wide flange dan API 5L X52 untuk
penampang tubular. Pemeriksaan analisis in-place dilakukan terhadap beberapa
kriteria perancangan, yaitu: unity check (UC) ratio elemen struktural, faktor
keamanan daya dukung aksial tanah, serta defleksi tiang pancang di dasar laut dan
defleksi relatif dek. Hasil perancangan terhadap beban lingkungan di Republik
Angola menunjukkan bahwa seluruh elemen struktural telah memadai. UC ratio
terbesar untuk penampang wide flange, jacket tubular, bracing tubular, dan tiang
pancang tubular secara berturut-turut adalah 0.99, 0.16, 0.79, dan 0.39. Defleksi
dek untuk kondisi storm adalah 5.13 cm, memenuhi batas yang dipersyaratkan oleh
basis perancangan, yaitu: 39.18 cm. Komparasi fenomena fatik di kedua negara
menunjukkan bahwa secara umum, umur rencana fatik sambungan tubular di
Republik Angola lebih kecil. Untuk sambungan JA12 (sambungan jacket-bracing
di bawah splash zone), umur rencana fatik untuk Republik Angola dan Indonesia
secara berturut-turut adalah 72.7 ribu tahun dan 1.10 juta tahun. Tren ini ditemui
pada 10 dari 15 sambungan jacket-bracing lainnya. Fenomena ini menunjukkan
bahwa karakteristik beban gelombang Republik Angola dengan periode panjang
lebih memicu fluktuasi lonjakan tegangan pada sambungan tubular sehingga
menghasilkan umur rencana fatik yang lebih buruk.
Perpustakaan Digital ITB