Selat Bali merupakan perairan sempit yang menghubungkan Samudra Hindia dan
Laut Bali dengan dinamika arus yang kuat akibat morfologi, variasi batimetri, dan
pasang surut. Kondisi tersebut penting dalam perencanaan jalur kabel bawah laut
karena arus dekat dasar dapat meningkatkan tegangan geser dasar, gerusan, dan
risiko tereksposnya kabel. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi
hidrodinamika Selat Bali dan merekomendasikan jalur kabel bawah laut
menggunakan model numerik Semi-implicit Cross-scale Hydroscience Integrated
System Model (SCHISM). Simulasi dilakukan selama satu bulan. Hasil verifikasi
elevasi pasang surut pada Stasiun Ketapang dan Jembrana oleh BIG menghasilkan
RMSE sebesar 0,092 - 0,102 m , sedangkan verifikasi kecepatan arus dengan data
Copernicus Marine Environment Monitoring Service (CMEMS) menghasilkan
RMSE sebesar 0,007–0,050 m/s. Hasil simulasi menunjukkan bahwa kecepatan
arus tertinggi terkonsentrasi di bagian tengah Selat Bali. Kecepatan arus permukaan
rata-rata pada zona tersebut mencapai 1,2–1,4 m/s, sedangkan arus dekat dasar
mencapai 0,8–1,0 m/s. Kecepatan arus maksimum pada kondisi spring tide
mencapai sekitar 2,5 m/s dan pada neap tide sekitar 1,5 m/s. Pada jalur kabel
eksisting ditemukan beberapa zona dengan kecepatan arus rata-rata lebih dari 1,5
m/s dan bed shear stress rata-rata mencapai sekitar 1,75 Pa. Kondisi tersebut
menunjukkan bahwa beberapa bagian jalur eksisting masih berada pada zona
dengan kondisi hidrodinamika tinggi dan perlu dievaluasi . Oleh karena itu, jalur
kabel direkomendasikan menuju area dengan kecepatan arus dan bed shear stress
yang lebih rendah untuk mengurangi potensi gerusan dan meningkatkan kestabilan
kabel.
Perpustakaan Digital ITB