digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Fanny Dwikartini [27123003]
PUBLIC Open In Flipbook Noor Pujiati.,S.Sos

Pakaian tradisional merupakan salah satu dari kostum yang digunakan untuk acara formal. Selain memiliki nilai estetika, pakaian tradisional dapat berkaitan dengan identitas diri dan sejarah suatu daerah. Pakaian tradisional yang diakui secara nasional adalah kebaya. Jenis kebaya yang dikenali masyarakat pun sangat variatif. Salah satunya kebaya Janggan yang dipakai oleh Jeng Yah di serial Gadis Kretek. Serial drama tersebut menceritakan seorang Jeng Yah yang memiliki ambisi untuk menjadi peracik saus kretek di tahun 1960-an. Dalam serial drama Gadis Kretek, Kebaya yang dikenakan oleh Jeng Yah didominasi oleh warna hitam dilengkai dengan aksesoris bros berwarna emas serta kain batik yang dikenakan. Selain itu, dalam adegan lainnya, Jeng Yah menggunakan kebaya yang ditampilkan secara berbeda dengan pergerakan kamera pada tampilan layar. Kebaya pada umumnya, ditampilkan pada media cetak, seperti majalah sehingga kebaya seperti gambar tidak bergerak. Akan tetapi, saat kebaya muncul di serial Gadis Kretek, representasi kebaya tampak berbeda dengan yang ditampilkan di serial Gadis Kretek. Kebaya Janggan yang dikenakan dapat berkaitan dengan sejarah,budaya, isu sosial dan identitas sehingga melibatkan unsur-unsur visual dalam pakaian tradisional yang saling berkaitan. Dalam serial Gadis Kretek, penelitian ini menggunakan metode OSV (object,variant,support) yang dikembangkan oleh Barthes pada buku The Fashion System sehingga dapat mengetahui makna visual dari kebaya Janggan Jeng Yah. The Fashion System membahas penandaan busana menggunakan matriks OSV object,support,variant untuk membedah objek busana sehingga metode ini dianggap peneliti sesuai mengupas elemen busana secara komprehensif. Dengan demikian, melalui kebaya yang dikenakan Jeng Yah dapat diketahui hasil penelitian bahwa kebaya Janggan dapat merepresentasikan budaya di tahun 1960-an.