Pakaian tradisional merupakan salah satu dari kostum yang digunakan untuk acara
formal. Selain memiliki nilai estetika, pakaian tradisional dapat berkaitan dengan
identitas diri dan sejarah suatu daerah. Pakaian tradisional yang diakui secara
nasional adalah kebaya. Jenis kebaya yang dikenali masyarakat pun sangat variatif.
Salah satunya kebaya Janggan yang dipakai oleh Jeng Yah di serial Gadis Kretek.
Serial drama tersebut menceritakan seorang Jeng Yah yang memiliki ambisi untuk
menjadi peracik saus kretek di tahun 1960-an. Dalam serial drama Gadis Kretek,
Kebaya yang dikenakan oleh Jeng Yah didominasi oleh warna hitam dilengkai
dengan aksesoris bros berwarna emas serta kain batik yang dikenakan. Selain itu,
dalam adegan lainnya, Jeng Yah menggunakan kebaya yang ditampilkan secara
berbeda dengan pergerakan kamera pada tampilan layar. Kebaya pada umumnya,
ditampilkan pada media cetak, seperti majalah sehingga kebaya seperti gambar
tidak bergerak. Akan tetapi, saat kebaya muncul di serial Gadis Kretek, representasi
kebaya tampak berbeda dengan yang ditampilkan di serial Gadis Kretek. Kebaya
Janggan yang dikenakan dapat berkaitan dengan sejarah,budaya, isu sosial dan
identitas sehingga melibatkan unsur-unsur visual dalam pakaian tradisional yang
saling berkaitan. Dalam serial Gadis Kretek, penelitian ini menggunakan metode
OSV (object,variant,support) yang dikembangkan oleh Barthes pada buku The
Fashion System sehingga dapat mengetahui makna visual dari kebaya Janggan Jeng
Yah. The Fashion System membahas penandaan busana menggunakan matriks
OSV object,support,variant untuk membedah objek busana sehingga metode ini
dianggap peneliti sesuai mengupas elemen busana secara komprehensif. Dengan
demikian, melalui kebaya yang dikenakan Jeng Yah dapat diketahui hasil penelitian
bahwa kebaya Janggan dapat merepresentasikan budaya di tahun 1960-an.
Perpustakaan Digital ITB