Targeted Radionuclide Therapy (TRT) menggunakan radiofarmaka 177LuDOTATATE telah menjadi modalitas yang sangat menjanjikan untuk pengobatan
kanker yang mengekspresikan reseptor somatostatin tipe 2 (SSTR2), termasuk lesi
kanker pada organ hati. Keberhasilan klinis dari terapi ini sangat bergantung pada
akurasi dosimetri internal untuk memprediksi efektivitas terapi dan meminimalkan
toksisitas pada jaringan sehat. Selama ini, pedoman dosimetri konvensional
berbasis formalisme Medical Internal Radiation Dose (MIRD) sering kali
mengandalkan asumsi distribusi aktivitas yang seragam (homogen) untuk
menghasilkan estimasi dosis rata-rata pada level organ. Namun, transisi menuju era
pengobatan presisi menuntut pemetaan dosimetri pada level voksel untuk
menangkap variasi deposisi dosis lokal yang sesungguhnya. Simulasi Monte Carlo
diakui sebagai standar emas untuk memenuhi kebutuhan tersebut karena
kemampuannya dalam memodelkan interaksi fisika radiasi di dalam medium
anatomi pasien yang kompleks.
Penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan kerangka kerja dosimetri
spesifik-pasien berdasarkan pedoman MIRD Pamphlet No. 23 menggunakan
program Monte Carlo Geant4 Application for Tomographic Emission versi 10
(GATE 10). Secara spesifik, studi ini mengevaluasi disparitas dosimetri akibat
penerapan asumsi pemodelan organ sumber berdistribusi aktivitas homogen
berbanding heterogen. Selain itu, penelitian ini juga mengkuantifikasi dan
membandingkan proporsi deposisi dosis internal lesi (Self-Dose) dengan paparan
dosis lintas organ (Cross-Dose) terhadap dosis total yang diterima oleh lesi kanker
hati.
Penelitian dilakukan menggunakan simulasi Monte Carlo berbasis voksel pada
GATE 10 dengan mengintegrasikan data klinis SPECT/CT. Alur kerja komputasi
mencakup kuantifikasi citra SPECT/CT, penentuan faktor kinetika peluruhan
melalui pemodelan Time Activity Curve (TAC), serta konstruksi geometri anatomi
tiga dimensi berbasis data CT. Sebuah lesi kanker di organ hati ditetapkan sebagai
target. Untuk menjamin presisi validasi statistik, ambang batas konvergensi
ditetapkan dan dicapai pada 1,1 × 1010 partikel primer. Delapan skenario model
dieksekusi guna mengevaluasi deposisi energi, yang meliputi kontribusi Self-Dose dari lesi kanker, serta paparan Cross-Dose dari organ limpa, ginjal kanan, dan ginjal
kiri. Distribusi aktivitas pada masing-masing sumber dimodelkan secara homogen
maupun heterogen. Luaran dosimetri dievaluasi secara kuantitatif dengan
mengekstraksi nilai klinis dosis maksimum (????????????????????), minimum (????????????????), dan ratarata (D?), serta divalidasi secara kualitatif melalui analisis peta isodosis aksial dan
differential Dose Volume Histogram (dDVH).
Hasil simulasi menunjukkan bahwa kerangka kerja MIRD Pamphlet No. 23 berhasil
diimplementasikan dengan perolehan tingkat ketidakpastian statistik yang
acceptable (< 10%). Analisis terhadap lesi kanker menyingkap bahwa secara
makroskopis, dosis rata-rata pada skema Self-Dose memiliki nilai yang berbeda
antara asumsi homogen (68,61 Gy) dan heterogen (64,97 Gy). Menariknya, nilai
luaran dari kedua model berbasis voksel ini teramati lebih tinggi dibandingkan
dengan estimasi dosis level organ konvensional menggunakan metode analitik
MIRD (51,4 Gy). Lebih lanjut, tinjauan mikroskopis level voksel membongkar
disparitas yang ekstrem. Pemodelan heterogen mengidentifikasi keberadaan hot
spots dengan ???????????????????? mencapai 142,84 Gy, yang secara artifisial diredam menjadi
hanya 82,56 Gy pada model homogen. Lebih lanjut, model heterogen mengekspos
zona cold spots pada dosis terendah 1,87 × 10?7 Gy yang gagal dideteksi oleh
asumsi homogen (7,38 × 10?5 Gy). Divergensi kurva dDVH dan visualisasi
isodosis mengonfirmasi bahwa asumsi distribusi yang seragam secara fatal
mendistorsi akurasi dosimetri spasial pada lesi kanker.
Di sisi lain, evaluasi komprehensif menunjukkan bahwa deposisi energi total pada
target didominasi secara mutlak oleh Self-Dose (> 99,99%). Kontribusi Cross-Dose
termarginalisasi pada fraksi yang sangat rendah secara klinis (< 0,01%). Dominasi
ini dikendalikan oleh jangkauan lintas pendek dari partikel ????
? 177Lu (< 2 mm), yang
mendeposisikan nyaris 100% energi kinetiknya di dalam organ sumber.
Berlawanan dengan skema Self-Dose, nilai kuantitatif maupun spektrum dDVH
pada skenario Cross-Dose terbukti selaras antara model homogen dan heterogen.
Keselarasan ini merupakan manifestasi fisis dari efek spatial blurring, ketika
partikel ? pelepas Cross-Dose mengalami atenuasi di dalam medium serta reduksi
intensitas yang mematuhi inverse square law saat menempuh jarak spasial yang
jauh dari organ eksternal.
Sebagai kesimpulan, kajian dosimetri Monte Carlo level voksel ini menegaskan
bahwa penerapan pemodelan distribusi aktivitas heterogen spesifik-pasien
merupakan syarat mutlak untuk evaluasi Self-Dose pada lesi kanker. Hal ini esensial
untuk menghindari underestimate tingkat toksisitas dan mencegah luputnya deteksi
terhadap sel kanker penyintas yang dapat memicu kekambuhan kanker. Sebaliknya,
dalam mengevaluasi kontribusi Cross-Dose dari organ berjarak jauh, metode
homogen terbukti masih valid dan akurat akibat redaman spasial, sehingga
pendekatan ini dapat diandalkan untuk menyederhanakan perhitungan dan
meningkatkan efisiensi komputasi dosimetri klinis.
Perpustakaan Digital ITB