digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Kemampuan Large Language Models (LLM) dalam memetakan informasi geospasial pada representasi internalnya umumnya dievaluasi menggunakan toponim eksplisit dan metrik rata-rata global yang berisiko menutupi ketimpangan antarwilayah. Penelitian ini menganalisis distorsi representasi geospasial pada tujuh LLM berukuran di bawah 4 miliar parameter melalui proksi budaya, yaitu artefak kuliner dan instrumen musik tradisional, dengan melatih linear probe pada hidden state lapisan terakhir untuk merekonstruksi koordinat geospasial dari nama artefak. Pendekatan ini mencapai koefisien determinasi hingga 0,961 pada kondisi dengan penanda lokasi eksplisit, dan tetap positif (0,410–0,891) tanpa penanda tersebut. Karakteristik kesalahan prediksi dievaluasi melalui dekomposisi bias-varians spasial, jarak great-circle, galat ternormalisasi, dan uji korelasi struktural Mantel, untuk membedakan kesalahan sistematis dari kesalahan acak serta mendeteksi akurasi semu. Hasil eksperimen menunjukkan informasi geospasial dapat direkonstruksi dari proksi budaya tanpa konteks lokasi eksplisit. Analisis dekomposisi geometris menunjukkan bahwa sembilan dari sembilan belas wilayah geospasial secara konsisten menunjukkan bias sistematis lintas ketujuh model (korelasi galat-arah 0,714–0,889), terkonsentrasi di Afrika, Amerika Selatan, Karibia, dan Oseania, dengan representasi yang bergeser menyerupai Eropa dan Asia Barat (konsistensi arah bias 0,899–0,955 pada domain kuliner). Sebaliknya, galat rendah pada Eropa Barat terbukti sebagian besar merupakan artefak kekompakan geografis wilayahnya, dengan galat ternormalisasi mencapai 4,65 hingga 7,42 kali lipat ukuran wilayahnya sendiri. Penelitian ini memberikan informasi bahwa representasi geospasial internal LLM mengandung ketimpangan yang terstruktur dan distorsi sistematis.