Secara tektonik, Pulau Seram di bagian utara Busur Banda merupakan kawasan tektonik aktif akibat konvergensi Lempeng Australia, Eurasia, dan Pasifik, membentuk sistem Fold Thrust Belt (FTB) Seram, Palung Seram, dan Zona Geser Kawa yang deformasinya masih berlangsung dan berpotensi memicu gempa signifikan, seperti gempa Ambon 2019 (Mw 6.5). Keterbatasan stasiun pengamatan geodetik dan ketidakpastian model elastisitas kerak menjadi tantangan evaluasi bahaya seismik, sehingga pendekatan geodetik penting bagi mitigasi bencana di wilayah ini.
Penelitian ini menggunakan data solusi harian GNSS dari enam stasiun CORS (CAMB, CBEM, CBLA, CHAI, CIRU, COLE). Time series koordinat dimodelkan dengan least square fitting untuk memperoleh medan kecepatan, dilanjutkan perhitungan laju regangan (Modified Least Squares) dan parameter euler pole untuk memisahkan rotasi rigid block dari kecepatan elastik interseismik. Kecepatan elastik residual menjadi masukan inversi laju slip pada bidang sesar menggunakan Steepest Descent Method (SDM) untuk mengestimasi potensi gempa melalui pendekatan defisit momen seismik.
Hasil menunjukkan nilai kecepatan terhadap ITRF2014 berkisar 18.60-42.65 mm/tahun, dilatasi regangan seluruhnya negatif (-47 hingga -336 nstrain/tahun) yang mengindikasikan kompresi meningkat dari barat ke timur. Inversi SDM menghasilkan slip rata-rata 19.20 mm pada FTB Seram dan 4.62 mm pada Sesar Buru, dengan potensi gempa masing-masing Mw 8.52 (periode ulang 404 tahun) dan Mw 8.24 (periode ulang 2358 tahun). Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam pemutakhiran parameter bahaya seismik serta mendukung upaya mitigasi bencana di Pulau Seram.
Perpustakaan Digital ITB