Inefisiensi administratif di perusahaan logistik merupakan hambatan kritis yang jarang dibahas dalam
konteks manajemen modal kerja. Studi ini meneliti bukti pengiriman dan penagihan di PT. MCQUEEN,
agregator transportasi di Indonesia, di mana siklus pembayaran 68 hari mencakup 15 hari keterlambatan
administratif sebelum penagihan, memperpanjang siklus konversi kas dan mengikat modal kerja tanpa
menambah nilai. Wawancara dan observasi mengungkapkan skor INDI 4.0 sebesar 1,96, menempatkan
perusahaan pada tingkat kesiapan 2, dengan pilar operasi perusahaan dan produk & layanan mendapat
skor sangat rendah dibandingkan dengan yang lain. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk
memperbaiki pilar-pilar tersebut dengan mengusulkan proses yang dapat mengintegrasikan 5 solusi,
yaitu termasuk SLA ePOD 24 jam wajib, validasi dokumen otomatis, integrasi tarif oracle, portal
persetujuan pengirim digital, dan dasbor pemantauan waktu nyata lintas departemen yang didukung
oleh struktur SOP. Intervensi ini diproyeksikan untuk mempersingkat siklus pembayaran dari 68
menjadi 56 hari, yang berarti ada pengurangan 12 hari piutang per transaksi. Lebih lanjut, solusi tersebut
memproyeksikan peningkatan skor akumulasi INDI 4.0 menjadi 2,69 yang menempatkan PT.
MCQUEEN di tingkat ketiga. Temuan ini menegaskan bahwa inefisiensi administratif membatasi arus
kas pada agregator logistik, dan bahwa pendekatan PPT (people-process-technology) holistik dapat
secara bersamaan meningkatkan efisiensi operasional dan kesiapan digital.
Kata Kunci: Manajemen Proses Bisnis; Cash Conversion Cycle; Kerangka People-Process
Technology; Transformasi Digital; INDI 4.0
Perpustakaan Digital ITB