digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Emelio Joshia Exaudi L.G.
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) mengonversi lebih dari 252.660 hektar lahan alami menjadi kawasan terbangun dan berpotensi mengubah karakteristik hidrologi wilayah. Sementara itu, DAS Sepaku yang berada di jantung kawasan tersebut tidak memiliki data observasi debit maupun stasiun hujan permukaan. Pekerjaan ini bertujuan mengkuantifikasi dampak perubahan tata guna lahan akibat pembangunan IKN terhadap debit puncak dan genangan di DAS Sepaku dengan menggunakan model hidrologi terdistribusi WRF-Hydro. Kalibrasi dan validasi model WRF-Hydro dilakukan terlebih dahulu di DAS Citarum Hulu yang memiliki data observasi debit lengkap, menghasilkan konfigurasi parameter terbaik melalui pendekatan kombinatorial 30 skenario. Koreksi bias data curah hujan satelit dilakukan menggunakan metode Delta Quantile Mapping aditif terhadap data GPM IMERG dan CHIRPS, dengan stasiun sinoptik Sepinggan sebagai acuan. Hujan rancangan untuk enam periode ulang (2 100 tahun) dibangun dari hasil analisis frekuensi Gumbel terhadap data terkoreksi. Parameter hasil kalibrasi ditransfer ke DAS Sepaku melalui regionalisasi parameter, dan dua skenario tutupan lahan disiapkan: DEFAULT (noIKN) menggunakan dataset MODIS termutakhir, sementara skenario FUTURE (IKN) dibangun dari DEFAULT dengan menerapkan index masking pada piksel-piksel area perubahan IKN mengacu pada data resmi rencana tata ruang IKN. Dua belas simulasi (6 periode ulang × 2 skenario) menunjukkan skenario FUTURE secara konsisten menghasilkan debit puncak lebih tinggi dibandingkan DEFAULT pada seluruh periode ulang, dengan kenaikan berkisar 3,12% hingga 5,51%, sementara pengaruh terhadap waktu puncak sangat kecil dan identik pada seluruh periode ulang. Pemetaan genangan berbasis Height Above Nearest Drainage menunjukkan kedalaman rata-rata genangan yang konsisten lebih tinggi pada skenario FUTURE dibandingkan DEFAULT di seluruh periode ulang, sehingga pembangunan IKN berpotensi meningkatkan risiko hidrologi di DAS Sepaku.