Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) mengonversi lebih dari 252.660 hektar
lahan alami menjadi kawasan terbangun dan berpotensi mengubah karakteristik
hidrologi wilayah. Sementara itu, DAS Sepaku yang berada di jantung kawasan
tersebut tidak memiliki data observasi debit maupun stasiun hujan permukaan.
Pekerjaan ini bertujuan mengkuantifikasi dampak perubahan tata guna lahan akibat
pembangunan IKN terhadap debit puncak dan genangan di DAS Sepaku dengan
menggunakan
model
hidrologi
terdistribusi
WRF-Hydro.
Kalibrasi dan validasi model WRF-Hydro dilakukan terlebih dahulu di DAS
Citarum Hulu yang memiliki data observasi debit lengkap, menghasilkan
konfigurasi parameter terbaik melalui pendekatan kombinatorial 30 skenario.
Koreksi bias data curah hujan satelit dilakukan menggunakan metode Delta
Quantile Mapping aditif terhadap data GPM IMERG dan CHIRPS, dengan stasiun
sinoptik Sepinggan sebagai acuan. Hujan rancangan untuk enam periode ulang (2
100 tahun) dibangun dari hasil analisis frekuensi Gumbel terhadap data terkoreksi.
Parameter hasil kalibrasi ditransfer ke DAS Sepaku melalui regionalisasi
parameter, dan dua skenario tutupan lahan disiapkan: DEFAULT (noIKN)
menggunakan dataset MODIS termutakhir, sementara skenario FUTURE (IKN)
dibangun dari DEFAULT dengan menerapkan index masking pada piksel-piksel
area perubahan IKN mengacu pada data resmi rencana tata ruang IKN.
Dua belas simulasi (6 periode ulang × 2 skenario) menunjukkan skenario FUTURE
secara konsisten menghasilkan debit puncak lebih tinggi dibandingkan DEFAULT
pada seluruh periode ulang, dengan kenaikan berkisar 3,12% hingga 5,51%,
sementara pengaruh terhadap waktu puncak sangat kecil dan identik pada seluruh
periode ulang. Pemetaan genangan berbasis Height Above Nearest Drainage
menunjukkan kedalaman rata-rata genangan yang konsisten lebih tinggi pada
skenario FUTURE dibandingkan DEFAULT di seluruh periode ulang, sehingga
pembangunan IKN berpotensi meningkatkan risiko hidrologi di DAS Sepaku.
Perpustakaan Digital ITB