digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Indonesia sedang memperluas manufaktur baterai kendaraan listrik sebagai bagian dari strategi hilirisasi nikel dan pengembangan industri nasional. Namun, peningkatan kapasitas manufaktur tidak secara otomatis menghasilkan manfaat yang luas bagi perekonomian domestik. Besarnya manfaat tersebut bergantung pada penggunaan input domestik, penciptaan nilai tambah domestik, dan keterkaitan produksi dengan industri lainnya. Penelitian ini mengevaluasi potensi dampak ekonomi domestik dari skenario manufaktur baterai nikel–mangan–kobalt berorientasi ekspor di Indonesia. Analisis dilakukan menggunakan model input–output statis berbasis permintaan dengan Tabel Input–Output Indonesia tahun 2020. Karena tabel resmi belum memisahkan manufaktur baterai kendaraan listrik sebagai sektor tersendiri, penelitian ini membentuk Sektor 186 menggunakan struktur biaya paket baterai nikel–mangan–kobalt. Struktur produksi yang dibentuk mengalokasikan 60,94 persen dari total biaya produksi pada input antara domestik, 13,39 persen pada input antara impor, dan sekitar 25,7 persen pada nilai tambah. Skenario penelitian mengasumsikan produksi baterai nikel–mangan–kobalt sebesar 1,38 gigawatt-jam, setara dengan 20 persen dari kapasitas awal yang direncanakan sebesar 6,9 gigawatt-jam pada Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery. Fasilitas tersebut hanya digunakan sebagai referensi kapasitas, sedangkan sektor baterai kendaraan listrik yang dibentuk tetap menjadi unit analisis. Volume produksi tersebut menghasilkan guncangan permintaan akhir ekspor sekitar 2,08 triliun rupiah. Model mengestimasi tambahan output sebesar 5,09 triliun rupiah di seluruh perekonomian dan tambahan nilai tambah sebesar 2,20 triliun rupiah, dengan pengganda output sebesar 2,445 dan pengganda nilai tambah sebesar 1,059. Dampak tersebut terkonsentrasi pada manufaktur baterai kendaraan listrik dan sektor pemasok hulunya, khususnya logam dasar bukan besi, pertambangan, bahan kimia dasar, serta material terkait plastik dan karet. Sektor 186 memiliki Daya Penyebaran sebesar 1,222 dan Derajat Kepekaan sebesar 0,615 sehingga diklasifikasikan sebagai sektor berketerkaitan ke belakang. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kontribusi ekonomi domestik dari manufaktur baterai kendaraan listrik bergantung pada partisipasi pemasok lokal, ketergantungan terhadap input impor, dan integrasinya dalam sistem produksi Indonesia yang lebih luas. Oleh karena itu, kebijakan industri perlu memprioritaskan pengembangan pemasok, pengadaan domestik, peningkatan kemampuan teknis, sertifikasi, dan penciptaan nilai domestik yang terukur. Kata kunci: manufaktur baterai kendaraan listrik, analisis input–output, hilirisasi nikel, nilai tambah domestik, keterkaitan antarindustri, Indonesia