Indonesia sedang memperluas manufaktur baterai kendaraan listrik sebagai bagian dari strategi
hilirisasi nikel dan pengembangan industri nasional. Namun, peningkatan kapasitas manufaktur
tidak secara otomatis menghasilkan manfaat yang luas bagi perekonomian domestik. Besarnya
manfaat tersebut bergantung pada penggunaan input domestik, penciptaan nilai tambah domestik,
dan keterkaitan produksi dengan industri lainnya. Penelitian ini mengevaluasi potensi dampak
ekonomi domestik dari skenario manufaktur baterai nikel–mangan–kobalt berorientasi ekspor di
Indonesia. Analisis dilakukan menggunakan model input–output statis berbasis permintaan
dengan Tabel Input–Output Indonesia tahun 2020. Karena tabel resmi belum memisahkan
manufaktur baterai kendaraan listrik sebagai sektor tersendiri, penelitian ini membentuk Sektor
186 menggunakan struktur biaya paket baterai nikel–mangan–kobalt. Struktur produksi yang
dibentuk mengalokasikan 60,94 persen dari total biaya produksi pada input antara domestik,
13,39 persen pada input antara impor, dan sekitar 25,7 persen pada nilai tambah. Skenario
penelitian mengasumsikan produksi baterai nikel–mangan–kobalt sebesar 1,38 gigawatt-jam,
setara dengan 20 persen dari kapasitas awal yang direncanakan sebesar 6,9 gigawatt-jam pada
Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery. Fasilitas tersebut hanya digunakan
sebagai referensi kapasitas, sedangkan sektor baterai kendaraan listrik yang dibentuk tetap
menjadi unit analisis. Volume produksi tersebut menghasilkan guncangan permintaan akhir
ekspor sekitar 2,08 triliun rupiah. Model mengestimasi tambahan output sebesar 5,09 triliun
rupiah di seluruh perekonomian dan tambahan nilai tambah sebesar 2,20 triliun rupiah, dengan
pengganda output sebesar 2,445 dan pengganda nilai tambah sebesar 1,059. Dampak tersebut
terkonsentrasi pada manufaktur baterai kendaraan listrik dan sektor pemasok hulunya, khususnya
logam dasar bukan besi, pertambangan, bahan kimia dasar, serta material terkait plastik dan karet.
Sektor 186 memiliki Daya Penyebaran sebesar 1,222 dan Derajat Kepekaan sebesar 0,615
sehingga diklasifikasikan sebagai sektor berketerkaitan ke belakang. Temuan penelitian
menunjukkan bahwa kontribusi ekonomi domestik dari manufaktur baterai kendaraan listrik
bergantung pada partisipasi pemasok lokal, ketergantungan terhadap input impor, dan
integrasinya dalam sistem produksi Indonesia yang lebih luas. Oleh karena itu, kebijakan industri
perlu memprioritaskan pengembangan pemasok, pengadaan domestik, peningkatan kemampuan
teknis, sertifikasi, dan penciptaan nilai domestik yang terukur.
Kata kunci: manufaktur baterai kendaraan listrik, analisis input–output, hilirisasi nikel, nilai
tambah domestik, keterkaitan antarindustri, Indonesia
Perpustakaan Digital ITB