Triple-Dip La Niña 2020–2023 merupakan fenomena iklim yang meningkatkan
curah hujan di wilayah Indonesia dan berpotensi memengaruhi salinitas permukaan
laut. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi distribusi spasial dan temporal
salinitas permukaan laut serta menganalisis dampak Triple-Dip La Niña terhadap
salinitas permukaan laut di perairan utara dan selatan Pulau Jawa. Penelitian
menggunakan data salinitas permukaan laut CMEMS periode 1993–2023, data
presipitasi ERA5, data observasi RG Argo dan in-situ, serta indeks iklim ONI,
DMI, PDO, dan AUSMI. Analisis dilakukan menggunakan metode anomali,
korelasi, EOF, dan PSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salinitas permukaan
laut di perairan Utara Jawa (31,4–33,0 PSU) secara konsisten lebih rendah
dibandingkan di Selatan Jawa (32,7–34,1 PSU). Selama periode Triple-Dip La Niña
terjadi perluasan wilayah bersalinitas rendah dan dominasi anomali salinitas
negatif, dengan kondisi paling kuat terjadi pada tahun 2022. Dibandingkan periode
non-Triple-Dip, rata-rata salinitas menurun sebesar 0,253 PSU di Utara Jawa dan
0,143 PSU di Selatan Jawa. Hasil perbandingan dengan data RG Argo dan in-
situ menunjukkan bahwa data CMEMS mampu merepresentasikan pola variabilitas
salinitas pada skala regional. Analisis EOF menghasilkan tiga mode utama yang
menjelaskan 77,41% total variansi, dengan Mode 1 (58,70%) berkaitan dengan
variabilitas iklim antar-tahunan yang dipengaruhi ENSO dan IOD, Mode 2
(12,03%) berkaitan dengan variabilitas dekadal yang dipengaruhi PDO, serta Mode
3 (6,68%) berkaitan dengan variabilitas musiman yang dipengaruhi monsun
Australia. Secara keseluruhan, Triple-Dip La Niña menyebabkan penurunan
salinitas permukaan laut yang berlangsung secara persisten, memperluas distribusi
massa air bersalinitas rendah, dan menunjukkan bahwa salinitas permukaan laut
merupakan indikator yang sensitif terhadap variabilitas iklim di perairan sekitar
Pulau Jawa.
Perpustakaan Digital ITB