Immune checkpoint inhibitor merupakan salah satu pilihan terapi utama dalam
penanganan berbagai jenis kanker karena efek sampingnya yang relatif lebih aman
dan manfaatnya dalam memperpanjang kesintasan hidup pasien. Akan tetapi, terapi
ini dapat menginduksi immune related adverse events yang disebabkan oleh
aktivasi sistem imun yang berlebihan. Angka kejadian adverse events ini belum
diketahui secara pasti pada populasi Indonesia karena penggunaannya yang relatif
baru. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi kejadian, tingkat keparahan,
serta analisis time to onset immune related adverse events yang muncul setelah
pemberian atezolizumab, avelumab, durvalumab, pembrolizumab, dan/atau
serplulimab. Penelitian ini merupakan studi kohort retrospektif dengan melibatkan
86 pasien yang mendapatkan terapi immune checkpoint inhibitor di MRCCC
Siloam Hospitals Semanggi Jakarta pada rentang waktu September 2024 hingga
September 2025. Data rekam medis pasien dianalisis untuk mendapatkan informasi
terkait pengobatan, jenis adverse events, dan tingkat keparahannya. Hasil penelitian
dianalisis secara deskriptif dan statistik menggunakan regresi logistik biner, analisis
Kaplan-Meier, log-rank, dan regresi Cox proportional hazards.
Penelitian ini menunjukkan kejadian immune related adverse events pada 63 pasien
(73,26%). Kejadian ini ditemukan paling banyak pada sistem gastrointestinal
(34,76%) dan kulit (10,16%). Gejala yang teramati pada pasien ini mencakup
konstipasi, mual, diare, mukositis oral, kolitis, dan pruritus. Tingkat keparahan
adverse events ini adalah 67,38% grade 1; 21,39% grade 2; 8,56% grade 3; 1,60%
grade 4; dan 1,07% grade 5. Mayoritas pasien tidak memerlukan intervensi medis
ketika muncul gejala adverse events. Faktor demografis dan karakteristik klinis
pasien tidak menunjukkan asosiasi yang bermakna terhadap kejadian immune
related adverse events. Median time to onset yang teramati pada penelitian ini
adalah 19 hari dengan komorbiditas gangguan ginjal sebagai faktor yang
berasosiasi dengan onset immune related adverse events (HR 2,284; 95% CI 1,076-
4,846; p = 0,031). Hasil ini menunjukkan pentingnya pemantauan kejadian adverse
events yang lebih ketat pada pasien dengan gangguan ginjal. Pengecekan parameter
laboratorium secara rutin perlu dipertimbangkan untuk mendeteksi kejadian
adverse events lebih dini dan mencegah peningkatan keparahan gejala pasien.
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam penggunaan terapi immune
checkpoint inhibitor di Indonesia
Perpustakaan Digital ITB