Diabetes merupakan penyakit kelainan metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia
kronis dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang dihasilkan
karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Hampir di seluruh dunia
penderita diabetes melitus selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Penggunaan
obat antidiabetes oral yang mampu menghambat aktivitas enzim DPP-4 telah
dikembangkan seperti sitagliptin, vildagliptin, dan saxagliptin. Mekanisme kerja
golongan DPP-4 inhibitor adalah meningkatkan kadar dan aksi Glucagon Like Peptide1 (GLP-1) dan Glucose-dependent Insulinotropic Polypeptide (GIP), meningkatkan
sekresi insulin sesuai dengan kadar glukosa darah, dan menekan sekresi glukagon dari
sel alfa pankreas. GLP-1 berfungsi untuk merangsang pelepasan insulin dan
menghambat pelepasan glukagon sehingga kadar gula dalam darah tetap terjaga.
Penggunaan tumbuhan dalam obat tradisional salah satunya untuk menurunkan kadar
glukosa darah telah digunakan oleh masyarakat Indonesia secara turun menurun.
Berdasarkan hal tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk melihat dan membuktikan
secara ilmiah dua puluh satu jenis tumbuhan yang biasa digunakan dalam pengobatan
tradisional sebagai penurun kadar glukosa darah dengan potensi sebagai inhibitor DPP4 secara in vitro, serta mengisolasi senyawa aktif yang bertanggung jawab terhadap
aktivitas inhibitor DPP-4 tumbuhan terpilih.
Penelitian ini dimulai dengan mengumpulkan beberapa tumbuhan yang telah
digunakan secara tradisional untuk menurunkan kadar glukosa darah oleh masyarakat
meliputi daun pacing, biji mahoni, herba sambiloto, daun ciplukan/cecendet, umbi
bidara upas, biji paria, daun mimba, daun angsana, biji alpukat, daun nangka, daun
kencana ungu, herba mala, batang brotowali, daun bungur, biji klabet, daun yakon,
daun bodhi, daun paitan, kulit buah delima, herba patikan kebo, dan buah okra. Proses
ekstraksi secara refluks menggunakan etanol 96%, dan pengujian aktivitas inhibitor
DPP-4 dilakukan secara in vitro, sitagliptin digunakan sebagai pembanding inhibitor
DPP-4. Isolasi senyawa aktif tumbuhan terpilih dipandu dengan pengujian aktivitas
inhibitor DPP-4 secara in vitro dan proses isolasi menggunakan berbagai metode
kromatografi dan metode pemisahan lain. Isolat dikarakterisasi menggunakan metode
spektroskopi massa (SM), spektroskopi Resonansi Magnetik Inti (RMI)-
1
H, (RMI)-
13
C,
RMI-Heteronuclear Single Quantum Correlation (HSQC) dan RMI-Heteronuclear
Multiple Bond Correlation (HMBC). Terhadap isolat ditentukan aktivitas inhibitor
DPP-4 dan juga sebagai inhibitor alfa-glukosidase.
Terdapat enam jenis tumbuhan yang memberikan aktivitas penghambatan DPP-4 lebih
dari 50% pada konsentrasi 2,5 µg/mL, yaitu daun yakon (Smallanthus sonchifolius)
52,84 ± 2,00 %; biji klabet (Trigonella foenum-graecum L) 71,29 ± 0,33 %; daun bodhi
(Ficus religiosa) 68,98 ± 1,96 %, kulit buah delima (Punica granatum) 58,79 ± 2,29 %;
batang brotowali (Tinospora crispa Miers ex Hoff.f) 65,86 ± 1,02 %; dan daun bungur
(Lagerstroemia loudonii Teijsm. & Binn.) 60,22 ± 2,01 %. Berdasarkan aktivitas
penghambatan DPP-4, kemudahan dalam memperoleh tumbuhan serta belum ada
penelitian yang terkait aktivitas DPP-4 maka bungur jenis Lagerstroemia loudonii
Teijsm.& Binn. dipilih sebagai tumbuhan yang diteliti lebih lanjut.
Ekstrak tumbuhan terpilih (Lagerstroemia loudonii Teijsm. & Binn.) difraksinasi
menggunakan metode ekstraksi cair-cair dengan pelarut air, n-heksana dan etil asetat.
Pengujian aktivitas inhibitor DPP-4 dilakukan terhadap fraksi n-heksana, etil asetat dan
air. Hasil pengujian aktivitas penghambatan DPP-4 fraksi n-heksana pada konsentrasi
0,5; 1; 2,5; dan 5 µg/mL memberikan nilai persen penghambatan berturut-turut sebesar
13,37 ± 1,88 %; 18,85 ± 1,33 %; 12,21 ± 1,40 %; dan 8,22 ± 1,31 %. Fraksi etil asetat
pada konsentrasi 0,5; 1; 2,5; dan 5 µg/mL memberikan nilai persen penghambatan
berturut-turut sebesar 15,21 ± 0,72 %; 13,20 ± 1,64 %; 11,38 ± 1,20 %; dan 13,20 ±
1,64 %. Fraksi air pada konsentrasi 0,5 µg/mL tidak memberikan aktivitas
penghambatan, pada konsentrasi 1; 2,5; dan 5 µg/mL memberikan nilai persen
penghambatan berturut-turut sebesar 4,27 ± 1,56 %; 3,89 ± 0,26 %; dan 6,50 ± 1,72 %.
Isolasi kandungan senyawa aktif penghambat DPP-4 dilakukan terhadap fraksi nheksana menggunakan metode kromatografi cair vakum dengan sistem elusi
bergradien menggunakan n-heksana-etil asetat-metanol pada beberapa komposisi
dengan kepolaran meningkat dan pemurnian isolat menggunakan kromatografi kolom
klasik dengan sistem elusi isokratik menggunakan kloroform-etil asetat (9,5:0,5). Hasil
pemurnian subfraksi diperoleh isolat LL yang memiliki jarak lebur 139,5-141,1
o
C.
Hasil karakterisasi isolat LL menggunakan metode spektroskopi RMI-
1
H, RMI-
13
C,
RMI-Heteronuclear Single Quantum Correlation (HSQC) dan RMI-Heteronuclear
Multiple Bond Correlation (HMBC) diketahui bahwa senyawa LL memiliki 6 gugus
metil, 1 ikatan rangkap, 1 gugus hidroksil, 11 gugus metilen, 9 gugus metin dan 3
karbon kuarterner. Dugaan sementara isolat mengarah pada senyawa beta-sitosterol.
Konfirmasi spektrum
1
H-NMR dan
13
C-NMR isolat LL dengan isolat beta-sitosterol
dari Etlingera spaerocephala Var. grandiflora menghasilkan geseran kimia yang mirip.
Spektrum massa isolat LL menunjukkan adanya ion molekul [M
+
-H] pada 413,37. Oleh
karena itu disimpulkan bahwa isolat yang diperoleh dari daun bungur adalah betasitosterol.
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa dari dua puluh satu
tumbuhan yang digunakan secara tradisional untuk menurunkan glukosa darah,
terdapat enam jenis tumbuhan yang memberikan aktivitas penghambatan lebih besar
dari 50%. Ekstrak daun bungur, fraksi n-heksana, fraksi etil asetat, fraksi air dan isolat
mempunyai aktivitas penghambatan terhadap DPP-4 secara in vitro. Isolat betasitosterol memiliki aktivitas yang lemah sebagai penghambat DPP-4 dengan nilai IC50
224,66 µg/mL dan IC50 sitagliptin sebagai pembanding inhibitor DPP-4 sebesar 1,10
µg/mL. Isolat beta-sitosterol memiliki aktivitas yang kuat sebagai penghambat alfaglukosidase dengan nilai IC50 60,14 µg/mL, sedangkan akarbose sebagai pembanding
inhibitor alfa-glukosidase memiliki nilai IC50 20,53 µg/mL.
Perpustakaan Digital ITB