Meningkatnya resistensi antibiotik, khususnya pada bakteri patogen prioritas global
seperti kelompok ESKAPE, menegaskan urgensi pengembangan antibiotik baru
yang lebih efektif. Salah satu sumber yang berpotensi menghasilkan kandidat
antibiotik baru adalah jamur asal laut, mengingat kondisi ekosistem laut yang
bersifat ekstrem dan dinamis mendorong organisme tersebut untuk mensintesis
senyawa dengan struktur molekul yang unik, yang berpotensi memiliki aktivitas
antibakteri. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi jamur
asal laut dari perairan di Provinsi Bali, Indonesia, yang berpotensi menghasilkan
metabolit sekunder dengan aktivitas antibakteri terhadap bakteri patogen,
khususnya yang termasuk dalam kelompok ESKAPE. Perairan Bali dipilih karena
wilayah ini merupakan bagian dari Coral Triangle, yang dikenal sebagai pusat
keanekaragaman hayati laut global. Penelitian ini mencakup tahapan peremajaan
isolat jamur asal laut, karakterisasi morfologi makroskopis dan mikroskopis,
fermentasi, ekstraksi, identifikasi spesies berbasis DNA barcoding, analisis
filogenetik, fraksinasi dan subfraksinasi, penentuan aktivitas antibakteri secara
kualitatif dan kuantitatif, serta analisis profil metabolit dari subfraksi terpilih.
Sebanyak sepuluh isolat jamur asal laut digunakan sebagai sumber ekstrak, yang
diuji aktivitas antibakterinya terhadap Staphylococcus aureus ATCC 6538,
Klebsiella pneumoniae ATCC 13883, Acinetobacter baumannii ATCC 19606,
Pseudomonas aeruginosa ATCC 9027, Enterobacter aerogenes, serta methicillinsensitive S. aureus (MSSA) yang berasal dari methicillin-resistant S. aureus
(MRSA) ATCC BAA-44. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat
(EtOAc) hasil fermentasi skala kecil dari isolat FSB 31A, khususnya yang berasal
dari media fermentasi, memperlihatkan aktivitas antibakteri paling kuat. Nilai
konsentrasi hambat minimum (KHM) yang diperoleh sebesar 200 µg/mL terhadap
S. aureus dan 25 µg/mL terhadap MSSA, yang masing-masing dikategorikan
sebagai aktivitas sedang dan kuat, sementara nilai konsentrasi bunuh minimum
(KBM) masih berada di atas 200 µg/mL. Identifikasi spesies berbasis DNA
barcoding wilayah internal transcribed spacer (ITS) mengonfirmasi bahwa isolat
FSB 31A merupakan Penicillium citrinum, yang konsisten dengan berbagai laporan
terdahulu mengenai aktivitas antibakteri P. citrinum terhadap S. aureus dan MRSA,
serta keberadaan metabolit aktif seperti penicitol D, 1-epi-citrinin H1, dan
penicitrinol J. Fermentasi skala besar terhadap isolat P. citrinum menghasilkan
ii
penurunan aktivitas antibakteri, yang diduga berkaitan dengan penambahan media
fermentasi selama proses fermentasi, sehingga kultur cenderung bertahan lebih
lama pada fase eksponensial dan mengalami perubahan komposisi maupun rasio
metabolit sekunder yang dihasilkan. Dugaan tersebut diperkuat oleh hasil
kromatografi lapis tipis (KLT) yang menunjukkan perbedaan profil bercak senyawa
antara ekstrak hasil fermentasi skala kecil dan skala besar. Meskipun demikian,
proses fraksinasi dan subfraksinasi terhadap ekstrak fermentasi skala besar berhasil
menghasilkan subfraksi 14–16 (S14–16) dengan nilai KHM sebesar 100 µg/mL
terhadap S. aureus dan 200 µg/mL terhadap MSSA, meskipun nilai KBM pada
kedua bakteri uji masih berada di atas 200 µg/mL. Analisis profil metabolit
menggunakan liquid chromatography–high resolution mass spectrometry (LC–
HRMS) terhadap subfraksi S14–16 mengungkap keberadaan sitrinin dan 8-
hydroxyquinoline (8-HQ), dua senyawa yang berdasarkan laporan terdahulu
diketahui memiliki aktivitas antibakteri terhadap S. aureus. Selain kedua senyawa
tersebut, masih dimungkinkan adanya metabolit sekunder lain, baik yang belum
terelusidasi strukturnya maupun yang belum dilaporkan aktivitas biologisnya, yang
berpotensi berkontribusi terhadap aktivitas antibakteri terhadap S. aureus maupun
MRSA. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa jamur asal laut P.
citrinum yang berasal dari perairan di Provinsi Bali, Indonesia, mampu
menghasilkan metabolit sekunder dengan aktivitas antibakteri terhadap S. aureus.
Meskipun senyawa aktif yang teridentifikasi hingga tahap ini bukan merupakan
senyawa baru, temuan ini menegaskan potensi jamur laut sebagai sumber kandidat
antibiotik. Penelitian lanjutan perlu difokuskan pada isolasi dan karakterisasi
senyawa tunggal dengan aktivitas paling kuat, sehingga kontributor utama aktivitas
antibakteri dapat diidentifikasi dan tingkat kekuatan aktivitas senyawa tunggal
dapat diklasifikasikan secara lebih akurat.
Perpustakaan Digital ITB