digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Berbagai spesies ular sanca merupakan kelompok reptil yang banyak dimanfaatkan dalam industri kulit eksotis, terutama untuk kebutuhan produk fesyen seperti tas, sepatu, dompet, hingga aksesori berkelas tinggi. Karakter visual kulit sanca menjadikannya memiliki nilai estetika tinggi dan permintaan pasar yang stabil. Namun, tingginya eksploitasi terhadap beberapa spesies sanca, termasuk sanca darah (Python brongersmai), sanca batik (Python reticulatus), dan sanca bodo (Python molurus), telah menimbulkan tekanan besar terhadap populasi liar mereka. Praktik perburuan, perdagangan berlebih, serta pengolahan kulit yang tidak etis menimbulkan konflik mendasar antara kebutuhan estetika industri fesyen dengan urgensi pelestarian reptil sebagai bagian penting dalam ekosistem. Kondisi ini menegaskan perlunya alternatif visual yang mampu meniru karakteristik kulit sanca tanpa ketergantungan pada material hewani. Penelitian ini bertujuan mengadaptasi tampilan visual kulit berbagai ular sanca ke dalam medium tekstil melalui teknik fabric printing sebagai pendekatan material alternatif dalam perancangan fesyen kontemporer. Proses adaptasi dilakukan dengan mengidentifikasi elemen visual utama meliputi struktur sisik, bentuk pola, distribusi warna, dan kedalaman tekstur pada beberapa spesies sanca yang umum dieksploitasi. Metode penelitian menggunakan pendekatan eksploratif dan eksperimen kreatif yang mencakup observasi visual, dokumentasi fotografi makro, digital pattern analysis, serta serangkaian uji coba fabric printing pada berbagai jenis tekstil. Eksperimen difokuskan pada penerjemahan pola alamiah sanca ke bentuk motif yang estetis namun tetap mempertahankan ciri khas reptilia nya, melalui eksplorasi teknik pewarnaan, layering tinta, manipulasi skala, serta pengayaan tekstur untuk menghasilkan efek kedalaman visual (optical texture). Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik fabric printing mampu menghadirkan representasi visual kulit ular sanca yang mendekati karakter aslinya tanpa melibatkan bahan hewani, sekaligus memungkinkan interpretasi artistik yang lebih fleksibel. Motif yang dihasilkan berhasil menampilkan kompleksitas pola sisik dan nuansa warna pada berbagai spesies, serta menunjukkan potensi aplikatif yang kuat pada produk fesyen wearable seperti outerwear, aksesori tekstil, dan elemen dekoratif kontemporer. Selain itu, penelitian ini menawarkan pendekatan desain yang selaras dengan prinsip keberlanjutan, karena menegaskan bahwa nilai Kebaruan penelitian terletak pada integrasi analisis visual multi-spesies ular sanca dengan teknik fabric printing sebagai metode yang etis dan ramah lingkungan. Penelitian ini tidak hanya memberikan alternatif material yang berpotensi mengurangi tekanan terhadap perdagangan kulit sanca di Indonesia, tetapi juga memperkaya kajian desain tekstil melalui eksplorasi pola biologis sebagai sumber inspirasi dengan pendekatan konservasi. Temuan penelitian diharapkan dapat menjadi acuan bagi desainer, akademisi, dan praktisi industri fesyen dalam mengembangkan produk yang estetis, fungsional, dan bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan. reptil dapat dicapai melalui inovasi material tanpa eksploitasi satwa .