Berbagai spesies ular sanca merupakan kelompok reptil yang banyak
dimanfaatkan dalam industri kulit eksotis, terutama untuk kebutuhan produk
fesyen seperti tas, sepatu, dompet, hingga aksesori berkelas tinggi. Karakter visual
kulit sanca menjadikannya memiliki nilai estetika tinggi dan permintaan pasar
yang stabil. Namun, tingginya eksploitasi terhadap beberapa spesies sanca,
termasuk sanca darah (Python brongersmai), sanca batik (Python reticulatus), dan
sanca bodo (Python molurus), telah menimbulkan tekanan besar terhadap populasi
liar mereka. Praktik perburuan, perdagangan berlebih, serta pengolahan kulit yang
tidak etis menimbulkan konflik mendasar antara kebutuhan estetika industri
fesyen dengan urgensi pelestarian reptil sebagai bagian penting dalam ekosistem.
Kondisi ini menegaskan perlunya alternatif visual yang mampu meniru
karakteristik kulit sanca tanpa ketergantungan pada material hewani.
Penelitian ini bertujuan mengadaptasi tampilan visual kulit berbagai ular sanca ke
dalam medium tekstil melalui teknik fabric printing sebagai pendekatan material
alternatif dalam perancangan fesyen kontemporer. Proses adaptasi dilakukan
dengan mengidentifikasi elemen visual utama meliputi struktur sisik, bentuk pola,
distribusi warna, dan kedalaman tekstur pada beberapa spesies sanca yang umum
dieksploitasi. Metode penelitian menggunakan pendekatan eksploratif dan
eksperimen kreatif yang mencakup observasi visual, dokumentasi fotografi
makro, digital pattern analysis, serta serangkaian uji coba fabric printing pada
berbagai jenis tekstil. Eksperimen difokuskan pada penerjemahan pola alamiah
sanca ke bentuk motif yang estetis namun tetap mempertahankan ciri khas reptilia
nya, melalui eksplorasi teknik pewarnaan, layering tinta, manipulasi skala, serta
pengayaan tekstur untuk menghasilkan efek kedalaman visual (optical texture).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik fabric printing mampu menghadirkan
representasi visual kulit ular sanca yang mendekati karakter aslinya tanpa
melibatkan bahan hewani, sekaligus memungkinkan interpretasi artistik yang
lebih fleksibel. Motif yang dihasilkan berhasil menampilkan kompleksitas pola
sisik dan nuansa warna pada berbagai spesies, serta menunjukkan potensi aplikatif
yang kuat pada produk fesyen wearable seperti outerwear, aksesori tekstil, dan
elemen dekoratif kontemporer. Selain itu, penelitian ini menawarkan pendekatan
desain yang selaras dengan prinsip keberlanjutan, karena menegaskan bahwa nilai
Kebaruan penelitian terletak pada integrasi analisis visual multi-spesies ular sanca
dengan teknik fabric printing sebagai metode yang etis dan ramah lingkungan.
Penelitian ini tidak hanya memberikan alternatif material yang berpotensi
mengurangi tekanan terhadap perdagangan kulit sanca di Indonesia, tetapi juga
memperkaya kajian desain tekstil melalui eksplorasi pola biologis sebagai sumber
inspirasi dengan pendekatan konservasi. Temuan penelitian diharapkan dapat
menjadi acuan bagi desainer, akademisi, dan praktisi industri fesyen dalam
mengembangkan produk yang estetis, fungsional, dan bertanggung jawab
terhadap keberlanjutan lingkungan. reptil dapat dicapai melalui inovasi
material tanpa eksploitasi satwa
.
Perpustakaan Digital ITB