digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Rangga Sulaiman
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Kota Pekalongan memiliki permasalahan inundasi yang terus meluas setiap tahunnya. Inundasi merupakan suatu fenomena tergenangnya area lahan kering secara permanen. Fenomena tersebut disebabkan oleh peristiwa kenaikan muka air laut, banjir/rob dan land subsidence. Inundasi mengakibatkan timbulnya fenomena tanah musnah, dimana bidang-bidang tanah tergenang secara permanen oleh air laut. Tanah musnah merupakan bidang tanah yang sudah berubah dari bentuk asalnya dikarenakan peristiwa alam, tidak dapat diidentifikasi lagi, tidak dapat difungsikan, digunakan dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Konsekuensi legal dari fenomena tersebut diantaranya adalah pemilik hak atas tanah dapat kehilangan hak untuk menguasai, menggunakan, atau mengambil manfaat atas tanah dikarenakan tanah tersebut hilang sebagian atau seluruhnya. Pada penelitian ini, bidang tanah yang berpotensi musnah di Kota Pekalongan dapat diidentifikasikan sebagai bidang tanah yang 100 % luasan bidang tanahnya terdampak inundasi minimal setinggi 60 cm. Dari total 33.059 bidang tanah yang telah diidentifikasi di wilayah administrasi Kota Pekalongan yang terletak di daerah pesisir utara, sebanyak 5654 bidang tanah memiliki potensi menjadi tanah musnah. Kelurahan Padukuhan Kraton merupakan kelurahan yang paling terdampak oleh inundasi karena memiliki jumlah bidang tanah yang berpotensi menjadi tanah musnah terbanyak di Kota Pekalongan. Sementara itu, dampak inundasi terhadap Kelurahan Bandengan paling sedikit karena hanya 301 bidang tanahnya saja yang berpotensi musnah. Di sisi lain, saat ini terdapat dua kelurahan yang lebih dari 40% wilayahnya mengalami inundasi, yaitu Kelurahan Bandengan dan Kandang Panjang