digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Annisa Meliana Shani
PUBLIC Alice Diniarti

Sejak mewabahnya pandemi Coronavirus disease-2019 (Covid-19) yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome-Coronavirus-2 (SARS-CoV-2) pada tahun 2019 silam, hingga saat ini World Health Organization (WHO) belum menyatakan hilangnya status pandemi tersebut. Karena itu, pengembangan vaksin sebagai salah satu tindakan preventif untuk menangani Covid-19, masih memiliki urgensi untuk dilakukan. Fenomena evolusi pada SARS-CoV-2 terus menyebabkan lahirnya varian virus SARS-CoV-2 yang baru, sehingga menyebabkan perubahan karakteristik pada setiap varian. Vaksin bersifat mutation-resistant diperlukan untuk mengatasi berbagai macam probabilitas mutasi pada virus. Melalui metode Reverse Vaccinology dapat dilakukan desain vaksin multiepitop yang berpotensi dapat memicu respon imun baik secara seluler maupun humoral serta memiliki sifat mutation-resistant. Penelitian secara in silico telah dilakukan untuk mendesain vaksin multiepitop menggunakan kombinasi fusi protein Spike dan protein NSP3 SARS-CoV-2. Perkembangan kandidat vaksin tersebut sejauh ini telah berhasil diekspresikan secara in vitro pada bakteri E.coli BL21(DE3). Berdasarkan peta perjalanan pengembangan vaksin maka pada penelitian ini dilakukan studi in vivo yakni uji imunogenisitas kandidat vaksin. Pengujian in vivo kandidat vaksin dilakukan pada mencit (Mus musculus) galur BALB/c. Pengujian dilakukan dengan memberikan kombinasi kandidat vaksin dan adjuvant alum fosfat Adju-Phos® dengan rasio 1:1 (v/v) 60 ?g per mencit. Kelompok mencit kontrol protein E.coli BL21(DE3) non-transforman diinjeksikan dengan kombinasi protein E.coli BL21 (DE3) non-transforman terpurifikasi dan Adju-Phos®, sementara kelompok mencit kontrol buffer diberikan PBS dan Adju-Phos® dengan volume yang serupa. Substansi uji diadministrasikan secara subkutan di bagian tengkuk pada hari ke-0 (vaksinasi primer), hari ke-14 (vaksinasi booster ke-1), dan hari ke-28 (vaksinasi booster ke-2). Pengambilan serum dilakukan pada 1 hari sebelum vaksinasi primer, 7 hari setelah vaksinasi primer, 7 hari setelah vaksinasi booster ke-1, dan 14 hari setelah vaksinasi booster ke-2. Analisis imunogenisitas kandidat vaksin dilakukan dengan metode sandwich ELISA. Pengamatan berat badan mencit diamati sejak satu hari sebelum vaksinasi hingga 42 hari setelahnya. Pengamatan suhu tubuh mencit dilakukan setiap sebelum vaksinasi, 3 jam pascavaksinasi, 6 jam pascavaksinasi dan 24 jam pascavaksinasi. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa suhu badan mencit pada setiap kelompok tidak berbeda secara signifikan (P>0,05). Perubahan berat badan mencit betina pada seluruh kelompok perlakuan tidak berbeda secara signifikan (P>0,05). Akan tetapi, pada mencit jantan kelompok kandidat vaksin menunjukkan berat badan yang lebih tinggi secara signifikan terhadap kontrol E.coli non-transforman-Alum (P=0,0007) maupun kontrol PBS-Alum (P=0,0007). Hasil analisis ELISA menunjukkan bahwa pada kelompok kandidat vaksin, baik pada mencit jantan dan betina, antibodi IgG berhasil terbentuk pada hari ke-21 (P<0,05). Lebih jauh lagi, IgG pada kelompok kandidat vaksin meningkat secara signifikan pada hari ke-42 (P<0,05). Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa kandidat vaksin bersifat imunogenik pada mencit BALB/c.