digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Aldi Galang Prahardhika
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

COVER_ALDI GALANG.pdf
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB I_ALDI GALANG.pdf
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB II_ALDI GALANG.pdf
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB III_ALDI GALANG.pdf
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB IV_ALDI GALANG.pdf
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB V_ALDI GALANG.pdf
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

PUSTAKA_ALDI GALANG.pdf
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

LAMPIRAN_ALDI GALANG.pdf
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Self-loosening merupakan suatu peristiwa yang sering dijumpai saat baut dan mur digunakan sebagai alat sambung. Fenomena tersebut dapat menyebabkan gangguan operasi pada peralatan kontrol hingga kerusakan pada peralatan secara umum. Pada pengujian kelonggaran baut, amplitudo percepatan getaran keluaran sistem penggetar perlu dijaga tetap pada sepanjang frekuensi uji. Hubungan fenomena self-loosening terhadap frekuensi getaran akan sulit ditentukan bila amplitudo percepatan getaran yang dihasilkan tidak dapat diatur tetap pada frekuensi uji mulai dari 10 hingga 300 Hz. Oleh karena itu, diperlukan kompensator sehingga sistem penggetar mampu menghasilkan amplitudo percepatan yang tetap sepanjang rentang frekuensi uji. Sebelum perancangan kompensator dilakukan, identifikasi dinamik perlu dilakukan agar karakteristik dinamik sistem penggetar dapat diketahui. Pada penelitian ini, metode yang digunakan untuk identifikasi dinamik sistem tersebut adalah pengujian respons frekuensi. Hasil dari pengujian tersebut adalah grafik hubungan gain sistem penggetar terhadap frekuensi. Selanjutnya, curve-fitting dilakukan untuk menentukan persamaan gain sistem sebagai fungsi frekuensi. Kompensator disusun berdasarkan kebalikan dari persamaan tersebut. Kompensator tersebut kemudian diterapkan pada sistem penggetar. Apabila amplitudo percepatan masukan dan keluaran dari sistem penggetar yang telah terkompensasi telah sesuai, kompensator disusun dalam bentuk digital. Kompensator digital terdiri dari perangkat lunak pembangkit sinyal dan kompensator berbasis LabVIEW. Sebelum kompensator digital disusun, dilakukan perbandingan antara sinyal keluaran dari perangkat lunak dan perangkat keras pembangkit sinyal. Apabila frekuensi dan amplitudo keduanya sesuai, kompensator digital dapat dirancang berdasarkan persamaan kompensator sebelumnya. Setelah itu, kompensator digital diterapkan pada sistem dan pengujian respons frekuensi kembali dilakukan. Apabila amplitudo percepatan keluaran telah sesuai dengan masukan, kompensator digital selanjutnya diterapkan untuk pengujian kelonggaran baut. Hasil pengujian respons frekuensi menunjukkan bahwa sistem penggetar yang telah dikompensasi mampu menghasilkan amplitudo percepatan yang tetap pada rentang frekuensi uji. Akan tetapi, perubahan massa uji tidak diperhitungkan dalam teknik kompensasi yang dikembangkan dalam penelitian ini.