digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

PT Triputra Agro Persada Tbk merupakan perusahaan minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) yang telah beroperasi di Indonesia sejak tahun 2005. Perusahaan ini beroperasi di Jambi, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Sejak awal, PT Triputra Agro Persada Tbk terus mendukung produksi CPO di Indonesia. Perusahaan percaya bahwa industri CPO di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar di masa depan. Perusahaan dapat memanfaatkan potensi tersebut untuk meraup keuntungan melalui produksi CPO. Karena itu, perseroan terus mengevaluasi kapasitas produksinya. Pada tahun 2023, PT Triputra Agro Persada Tbk akan meningkatkan kapasitas produksi dengan rencana ekspansi bisnis dengan biaya sebesar 900 miliar rupiah. Saat ini, PT Triputra Agro Persada Tbk memiliki struktur permodalan yang berbeda dengan kompetitor lain di industri CPO Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan mungkin belum memiliki struktur modal yang optimal. Dengan memiliki struktur modal yang optimal, diharapkan perusahaan dapat meminimalkan biaya modal dan memaksimalkan nilai perusahaan. Rencana ekspansi dengan biaya 900 miliar rupiah diharapkan menjadi momentum bagi PT Triputra Agro Persada Tbk untuk melakukan restrukturisasi modal. Penelitian ini menggunakan M&M Theory Proposition II untuk menemukan struktur modal optimal PT Triputra Agro Persada Tbk. Penelitian ini berhasil menemukan bahwa perusahaan memiliki struktur modal yang optimal dengan biaya modal terendah. Saat ini perseroan memiliki proporsi hutang 15% dan ekuitas 85% terhadap total modal. Berdasarkan hasil penelitian ini, struktur modal perusahaan yang optimal adalah dengan proporsi hutang 89% dan ekuitas 11% terhadap total modal. Sebelumnya, perusahaan memiliki biaya modal sebesar 13,71%. Dengan struktur modal yang optimal, perusahaan dapat memiliki biaya modal sebesar 12,45%. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa PT Triputra Agro Persada Tbk seharusnya melakukan penyesuaian struktur modal untuk mendapatkan proporsi utang 15% dan ekuitas 85% terhadap total modal. Hal ini harus dilakukan agar perusahaan dapat meminimalkan biaya modal dan memaksimalkan nilai perusahaan. Perseroan sebaiknya mengumpulkan anggaran ekpansi sebesar 900 miliar rupiah dalam bentuk hutang.