Kota pada era global mengalami persaingan satu dengan yang lain dalam menarik berbagai
aktivitas ekonomi untuk berinvestasi di dalam kotanya. Branding kota menjadi perangkat yang
banyak digunakan Pemerintah Kota setempat sebagai strategi dalam menstimulasi
perkembangan kota dan ekonomi tersebut melalui pembentukan persepsi target pasar,
manajemen daya tarik hingga pembentukan citra dan identitas kota. Sejak branding kota
merupakan instrumen yang dominan diatur oleh Pemerintah dalam kebijakan publiknya maka
muncul tuntutan publik atas transparansi hasil yang didapatkan dari inisiasi program branding
kota tersebut. Bersamaan dengan hal itu pendekatan New Public Management dalam organisasi
pemerintahan mewajibkan atas semua kinerja program yang dijalankan dapat terukur dan
diselenggarakan secara efektif dan efisien. Sehingga branding kota sebagai instumen kebijakan
Pemerintah juga perlu untuk dijabarkan secara jelas apa saja yang menjadi bukti
keberhasilannya.
Pada pendekatan manajemen publik keberhasilan suatu program dinilai dari tercapainya
indikator performa yang ditetapkan. Studi ini melihat pengaplikasian strategi branding tidak
secara baik dapat dijelaskan dan cenderung bersifat abstrak karena tidak termuat dalam rencana
pembangunan maupun rencana strategis. Kota Batu sebagai wilayah studi ditemukan juga
belum memiliki manajemen performa dari strategi branding yang digunakan. Kota Batu sendiri
merupakan kota yang cukup berhasil dalam mengaplikasikan branding sebagai strategi
pengembangan dan promosi destinasi pariwisata yang ditawarkan. Strategi branding yang
merupakan agenda politis dari kepemimpinan yang menjabat dan seiring pergantian masa
jabatan menjadikan strategi branding Kota Batu sulit untuk dijabarkan apa yang selama ini
menjadi bukti keberhasilannya karena seringkali butuh waktu yang lama untuk terwujud.
Sehingga studi ini mencoba untuk merumuskan kerangka indikator performa sebagai instrumen
manajemen performa Pemerintah terhadap program branding yang dijalankan di Kota Batu.
Dengan terumuskannya indikator performa dari strategi branding maka akan dapat lebih jelas
tujuan apa yang ingin dicapai, sumber daya apa yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan
tersebut hingga digunakan sebagai kerangka evaluasi dari Pemerintah setempat dalam melihat
hal apa yang perlu didorong agar tujuan dapat dicapai.
Indikator performa perlu dirumuskan secara baik agar konteks keberhasilan dari branding
dapat digambarkan secara menyeluruh. Metode Consensus Building dengan menggunakan
teknik Delphi dinilai efektif untuk merumuskan indikator performa tersebut dengan melibatkan
berbagai pihak baik akademisi, praktisi, dan pemerintah sendiri. Modifikasi teknik paper pencil
Delphi dengan menggunakan media elektronik dan internet digunakan dalam penelitian ini.ii
Pendekatan statistik deskriptif dalam menilai konsensus dalam Delphi digambarkan dengan
nilai Koefisien Konkordansi (W) dan nilai Inter Quartile Range (IQR). Identifikasi awal
indikator performa dilakukan dengan review terhadap literatur dan praktik branding kota.
Didapatkan indikator performa branding kota mencakup 5 dampak yakni dalam aspek
image/identity, ekonomi, behavioral, infrastruktural, dan institusional. Berdasarkan hasil
analisis Delphi disepakati terdapat 79 indikator performa branding Kota Batu sebagai Kota
Wisata.
Hasil indikator performa yang berhasil dirumuskan dirangkai sebagai kerangka indikator
performa melalui pendekatan model logis dan hubungan kausalitas antar indikator yang
terbentuk. Model logis indikator terbagi menjadi output, outcome dan impact. Kriteria
deskriptif ditetapkan dalam merumuskan indikator dalam kerangka output, outcome, dan
impact. Indikator impact menggambarkan tujuan sesungguhnya yang dicapai dalam jangka
panjang yang juga dapat digunakan sebagai keberhasilan sesungguhnya dari branding Kota
Batu. Didapatkan indikator impact mencakup aspek image/identity dalam awareness brand
kota yang terbentuk, aspek ekonomi dalam pertumbuhan GDP kota, aspek behavioral dari
loyalitas target pasar yang terbentuk dan peningkatan kualitas hidup masyarakat dan aspek
institusional dalam peningkatan kualitas pelayanan publik Pemerintah terhadap masyarakat.