digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

COVER Dina Stephani
PUBLIC Roosalina Vanina Viyazza

BAB 1 Dina Stephani
PUBLIC Roosalina Vanina Viyazza

BAB 2 Dina Stephani
PUBLIC Roosalina Vanina Viyazza

BAB 3 Dina Stephani
PUBLIC Roosalina Vanina Viyazza

BAB 4 Dina Stephani
PUBLIC Roosalina Vanina Viyazza

PUSTAKA Dina Stephani
PUBLIC Roosalina Vanina Viyazza

Liquefied Natural Gas (LNG) adalah gas bumi yang dikondensasi menjadi cairan pada tekanan atmosfer dengan mendinginkannya hingga suhu -160 0C. LNG memiliki volume sekitar 1/600 fase gas pada suhu dan tekanan standar, sehingga lebih mudah dan ekonomis untuk didistribusikan, terutama kepada pelanggan yang jaraknya relatif jauh dari lapangan gas. LNG masih dianggap sebagai produk sementara sampai pelanggan memiliki akses ke Gas Pipa. Selama beberapa tahun terakhir, beberapa pelanggan LNG Pertagas Niaga telah beralih ke pasokan Gas Pipa begitu Gas Pipa tersedia. Harga Gas Pipa yang lebih rendah juga menjadi faktor yang membuat LNG kurang kompetitif dibandingkan Gas Pipa. Kondisi-kondisi tersebut menyebabkan penurunan volume penjualan LNG yang signifikan dan menyebabkan fasilitas LNG tidak terutilisasi secara penuh dan volume minimum kontrak transportasi tidak dapat dicapai. Jika biaya Stasiun Pengisian LNG dibebankan kepada volume kontrak penjualan saat ini, biaya per unit LNG akan terlalu tinggi untuk dapat diterima pasar. Biaya per unit LNG dapat diturunkan dengan meningkatkan volume penjualan atau menurunkan biaya operasi secara bersamaan. Meningkatkan volume penjualan dari sektor industri cukup menjadi tantangan dalam kondisi saat ini, industri menjadi lebih sensitif terhadap harga. Untuk industri dengan volume konsumsi bahan bakar yang signifikan, Gas Pipa akan lebih layak secara ekonomi. Sehingga penjualan LNG perlu menyasar segmen pelanggan baru yang mengkonsumsi gas dalam volume yang lebih kecil dan tidak layak secara ekonomis untuk disuplai dengan Gas Pipa yaitu pelanggan dari sektor komersial dan industri kecil. Volume konsumsi gas yang lebih kecil membutuhkan rantai pasokan LNG yang berbeda dari rantai pasokan LNG Pertagas Niaga yang ada saat ini terkait beberapa pertimbangan teknis dan ekonomi. Aspek teknis yang perlu diperhatikan adalah konsumsi gas yang lebih kecil berarti membutuhkan infrastruktur LNG yang berbeda. LNG perlu dipasok dalam wadah penyimpanan yang dapat diangkut yang lebih kecil dibandingkan tangki ISO LNG yang digunakan saat ini. Untuk mengurangi biaya transportasi LNG, titik pasok LNG dapat digeser lebih dekat ke lokasi pelanggan. LNG tidak langsung dikirim dari Terminal LNG Arun ke lokasi pelanggan, melainkan dari area transit di Medan yang disebut LNG Hub. Pengembangan LNG Hub yang berfungsi sebagai titik pasok perantara diharapkan dapat menghasilkan efisiensi biaya transportasi.